<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1525122219711433196</id><updated>2012-02-16T00:38:51.707-08:00</updated><category term='wanita'/><title type='text'>KANG JUMARI</title><subtitle type='html'>Kami mengundang saudara, sahabat, para pakar untuk berdialog dan berdiskusi bersama tentang berbagai hal, baik pendidikan, keislaman, sosial, agama, politik, ekonomi, teknologi dan lain-lain demi kemajuan dan kemakmuran bangsa tercinta Indonesia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kangjumari.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangjumari.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>kang jumari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03274637909033545700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_h2jQcs50AGU/R3Z7VoAS6EI/AAAAAAAAAAo/mhkKeJSK4ns/S220/Untitled-1+copy.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1525122219711433196.post-3446338421010809182</id><published>2008-09-02T19:07:00.000-07:00</published><updated>2009-04-12T21:28:00.623-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wanita'/><title type='text'>ENGKAU WANITA</title><content type='html'>ENGKAU WANITA&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_h2jQcs50AGU/SL3yLJQcKNI/AAAAAAAAAB0/XPB13dfKsjo/s1600-h/with+best+friends.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_h2jQcs50AGU/SL3yLJQcKNI/AAAAAAAAAB0/XPB13dfKsjo/s200/with+best+friends.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241611814606481618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Wanita sebagai penyeimbang bagi kaum laki-laki. Laki-laki yang begitu perkasa tak akan bermakna jika tidak ada wanita. Begitu pun sebaliknya. Namun, di era gender seperti sekarang ini kadang kala kita jumpai wanita yang seakan-akan tidak membutuhkan laki-laki atau laki-laki yang tidak butuh wanita. Kalau demikian itu yang terjadi, maka hal itu sudah dapat dipastikan bahwa orang tersebut mengalami kelainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara logis, memang sudah ditakdirkan bahwa laki-laki dan perempuan merupakan makhluk yang senantiasa berpasangan. Sudah menjadi kewajaran dan itulah takdir Tuhan. Namun, akan menjadi suatu yang abnormal jika di antara keduanya tersebut tidak ada simbiosis mutualisme (hubungan saling menguntungkan). Karena Tuhan menciptakan demikian sudah tentu memiliki sisi positif yang sangat besar. Sebab tiadalah kesia-siaan suatu ciptaan Tuhan. Sekecil apapun ciptaan-Nya akan memiliki manfaat yang cukup tinggi. Bahkan, jikalau kita mau merenungkan tentang ciptaan-Nya, makhluk yang mungkin antagonis sekalipun tiadalah mungkin sia-sia. Suatu waktu pasti akan membutuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian tak ubahnya kaum wanita dan laki-laki. Mereka semua telah memiliki peran masing-masing sesuai kodrat dan kemampuan yang dimilikinya. Walau era gender yang menuntut emansipasi wanita, tapi bukan berarti wanita harus menjadi laki-laki atau pun pekerjaan laki-laki dapat dikerjakan oleh wanita. Akan tetapi, di antaranya lah harus ada pemahaman akan kodrat diri masing-masing. Karena, jika kodrat (sunnatullah) ini telah dilanggar oleh manusia, maka ibarat mesin adalah salan dalam memasang bagian mesin tersebut dapat berakibat kerusakan mesin. oleh sebab itu, berkaca dari hal itu, tak ubahnya peran laki-laki dan wanita harus ada keseimbangan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lain serta saling membutuhkan satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1525122219711433196-3446338421010809182?l=kangjumari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangjumari.blogspot.com/feeds/3446338421010809182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1525122219711433196&amp;postID=3446338421010809182&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/3446338421010809182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/3446338421010809182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangjumari.blogspot.com/2008/09/adikq-yang-manis.html' title='ENGKAU WANITA'/><author><name>kang jumari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03274637909033545700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_h2jQcs50AGU/R3Z7VoAS6EI/AAAAAAAAAAo/mhkKeJSK4ns/S220/Untitled-1+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_h2jQcs50AGU/SL3yLJQcKNI/AAAAAAAAAB0/XPB13dfKsjo/s72-c/with+best+friends.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1525122219711433196.post-7869359242812662848</id><published>2008-06-07T08:20:00.000-07:00</published><updated>2008-06-07T08:22:14.540-07:00</updated><title type='text'>NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM WAYANG</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1525122219711433196-7869359242812662848?l=kangjumari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangjumari.blogspot.com/feeds/7869359242812662848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1525122219711433196&amp;postID=7869359242812662848&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/7869359242812662848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/7869359242812662848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangjumari.blogspot.com/2008/06/nilai-nilai-pendidikan-islam-dalam.html' title='NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM WAYANG'/><author><name>kang jumari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03274637909033545700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_h2jQcs50AGU/R3Z7VoAS6EI/AAAAAAAAAAo/mhkKeJSK4ns/S220/Untitled-1+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1525122219711433196.post-5707888419705797220</id><published>2008-06-07T08:18:00.000-07:00</published><updated>2008-06-07T08:19:27.847-07:00</updated><title type='text'>DUNIA WAYANG DAN PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1525122219711433196-5707888419705797220?l=kangjumari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangjumari.blogspot.com/feeds/5707888419705797220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1525122219711433196&amp;postID=5707888419705797220&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/5707888419705797220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/5707888419705797220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangjumari.blogspot.com/2008/06/dunia-wayang-dan-pendidikan.html' title='DUNIA WAYANG DAN PENDIDIKAN'/><author><name>kang jumari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03274637909033545700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_h2jQcs50AGU/R3Z7VoAS6EI/AAAAAAAAAAo/mhkKeJSK4ns/S220/Untitled-1+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1525122219711433196.post-1048922438596244369</id><published>2007-12-29T09:04:00.000-08:00</published><updated>2007-12-29T09:18:00.964-08:00</updated><title type='text'>SERTIFIKASI GURU; SEBUAH UPAYA MENCARI STATUS EKONOMI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sertifikasi guru yang saat ini lagi gencar-gencarnya dilakukan oleh pemerintah dalam upaya untuk meningkatkan kwalitas guru. Pada realitasnya masih banyak mengalami banyak kendala. Portofolio yang dilaksanakan jauh dari ketentuan yang berlaku. Usaha apapun akan dilakuka demi mendapatkan status sertifikasi dan suatu pengharapa yang cukup besar nantinya gaji (salary) itu pun juga mengalami kenaikan.&lt;br/&gt;Pemerintah selaku pemangku kebijakan terlaksananya sertifikasi bagi guru pun juga memiliki pengharapan agar nantinya para guru sebagai tonggak keberhasilan pendidikan mampu meningkatkan kinerjanya agar lebih profesional. Tetapi kemudian munculah pesimisme baru, suatu kemungkina-kemungkina akan muncul. Kondisi seperti itu untuk saat ini didukung oleh kenyataan dilapangan bahwa kondisi ekonomi negara ini yang sedang sulit, kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok bisa saja memicu guru untuk melakukan sesuatu agar mereka mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. sebuah pertanyaan besar yang mungkin bisa kita renungkan kembali. Akankah sertifikasi guru hanya sebagai pencari status ekonomi guru ditengah naiknya harga-harga? semoga bermanfaat&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1525122219711433196-1048922438596244369?l=kangjumari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangjumari.blogspot.com/feeds/1048922438596244369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1525122219711433196&amp;postID=1048922438596244369&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/1048922438596244369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/1048922438596244369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangjumari.blogspot.com/2007/12/sertifikasi-guru-sebuah-upaya-mencari.html' title='SERTIFIKASI GURU; SEBUAH UPAYA MENCARI STATUS EKONOMI'/><author><name>kang jumari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03274637909033545700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_h2jQcs50AGU/R3Z7VoAS6EI/AAAAAAAAAAo/mhkKeJSK4ns/S220/Untitled-1+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1525122219711433196.post-236553941567548533</id><published>2007-12-26T10:57:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T11:00:01.639-08:00</updated><title type='text'>MASALAH PENDIDIKAN KITA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;MASALAH PENDIDIKAN KITA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kalau benar-benar diinventarisasi, banyak masalah dan persoalan besar dan mendasar yang masih dihadapi oleh dunia pendidikan kita dewasa ini yang memerlukan pemecahan mendasar melalui program mendasar pula. Sebut saja misalnya buta aksara yang masih banyak menyelimuti kehidupan masyarakat kita yang harus di entaskan melalui pendidikan luar sekolah. Walaupun kegiatan pemberantasan buta huruf sudah sejak lama dicanangkan dan diupayakan pemerintah bersama masyarakat, namun masih tetap saja terdapat tidak kurang dari 104.000 warga negara Indonesia yang masih buta aksara di Riau. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pemberantasanya tentulah memerlukan perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang sungguh-sungguh. Keinginan dari mereka yang masih buta aksara ini untuk belajar dan meningkatkan kemampuan perlu pula ditumbuh kembangkan melalui motivasi yang diberikan oleh semua pihak termasuk para mubaligh dan juru dakwa, agar mereka juga proaktif dalam mendatangi pusat-pusat belajar yang telah ada ataupun yang yang akan dikembangkan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jumlah anak usia sekolah antara umur 7 s/d 15 tahun masih banyak yang belum tertampung pada fasilitas pendidikan yang sudah ada. Pada hal wajib belajar 9 tahun itu sudah dicanangkan sejak 10 tahun yang lalu. Untuk itu mau ataupun tidak, fasilitas belajar mengajar haruslah diusahakan, baik di sekolah ataupun di luar sekolah. Pada saat ini kita harus mengakui paling tidak ada sekitar 3 s/d 5 % lagi anak-anak usia sekolah dasar yang tidak sempat menikmati pembelajaran di sekolah dasar tersebut, baik karena putus sekolah dengan berbagai alasan, maupun karena sama sekali tidak sempat mengecap pendidikan di sekolah tersebut. Mereka pada umumnye bermukim di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh sarana transportasi, telekomunikasi maupun fasilitas pendidikan. Namun karena wajib belajar 9 tahun telah diprogramkan maka mau ataupun tidak mereka harus difasilitasi di manapun mereka berada dan bagaimanapun caranya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pembangunan sekolah dasar baru maupun perbaikan sekolah-sekolah yang sudah ada kelihatannya sudah sangat mendesak untuk dilaksanakan. Di berbagai Kabupaten dan Kota serta Kecamatan sering terdengar keluhan adanya fasilitas sekolah yang tidak lengkap dengan jumlah guru yang terbatas dan lain-lain keluhan. Mencukupi kebutuhan standar minimal bagi sekolah dasar maupun madrasyah Ibtidaiyah kelihatannya sudah sangat penting menjadi skala prioritas di mana pun sekolah dasar itu berada. Kita tidak boleh lagi membiarkan sebuah sekolah hanya di asuh oleh dua atau tidak orang guru saja termasuk kepala sekolahnya. Karena itu penambahan guru kelas kelihatannya sangat penting dan tak dapat ditunda lagi ditambah dengan guru mata pelajaran khusus seperti matematika, ilmu pengetahuan alam dan lain sebagainya disamping meningkatkan mutu guru agar profesional dan memiliki kompetensi dalam mengajar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penyiapkan fasilitas sekolah seperti ruang belajar, ruang kantor, laboratorium bahasa dan komputer, laboratorium IPA, perpustakaan, buku pelajaran pokok dan tambahan, fasilitas seni dan olah raga, tempat bermain, musholla, taman adalah fasilitas-fasilitas yang secara bertahap perlu dibangun. Menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif dengan menejemen sekolah yang baik yang menyebabkan anak ddik dan guru betah tinggal di sekolah sebagai rumah mereka yang kedua adalah hal yang teramat penting yang perlu ditumbuh-kembangkan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sekolah Menengah Pertama ataupun madrasyah tsanawiyah kita kelihatannya sudah sangat mendesak untuk ditingkatkan jumlah dan daya tampungnya sehingga semua lulusan sekolah dasar bisa ditampung di sekolah menengah pertama pada tahun 2008 mendatang. Untuk mencapai hal tersebut paling tidak setiap tahun kita harus membangun 800 buah lokal atau kelas baru sampai menjelanga tahun 2008 mendatang, di setiap daerah yang memiliki anak-anak usia sekolah antara 12 s/d 15 tahun terseebut. Untuk itu kita bisa membayanglan berapa jumlah guru, fasilitas sekolah dan dana yang harus kita sediakan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Peningkatan jumlah dan mutu Sekolah Menengah Atas dan Madrasyah Aliyah sudah sangat mendesak pula kita laksanakan. Pada hari ini paling tidak ada sekitar 80 % orang tamatan sekolah Menengah Atas yang tidak melanjutkan sekolah pada tingkatan yang lebih tinggi. Hal ini berarti bahwa mereka harus masuk ke dunia kerja. Dengan ketrampilan yang masih terbatas, tidak otomatis semua anak yang tidak masuk ke perguruan tinggi tadi bisa ditampung di lapangan pekerjaan yang tersedia maupun menciptakan lapangan pekerjaan yang baru. Untuk itu mereka masih memerlukan pelatihan dan pendidikan khusus lagi agar mereka memperoleh kelayakan untuk memasuki dunia kerja yang tersedia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kita agaknya memang perlu belajar dari negara tetangga kita seperti Singapura bagaimana cara mereka menyiapkan sumberdaya manusia yang siap pakai di dunia kerja. Setelah menamatkanpendidikan di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama selama 10 tahun, mereka sengaja menggodok anak didik ini selama 2 tahun lagi dalam bentuk pelatihan (training) yang intensif sehingga dalam kurun waktu dua tahun itu akan dihasilkan anak didik yang cerdas dan trampil. Bagi mereka yang pintar bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi sedangkan yang nilainya sedang-sedang saja, harus masuk ke dunia kerja. Untuk itulah, dengan tidak merobah sistem pendidikan, kita perlu memberi ketrampilan khusus bagi anak didik kita itu di samping upaya membangun sekolah menengah kejuruan yang relefan dengan tuntutan dunia kerja. Mendorong peningkatan mutu pendidikan tinggi di Propinsi Riau kelihatannya juga tidak mungkin dapat diabaikan dalam rangka meningkatkan daya saing anak bangsa di percaturan peradapan dunia. Mudah-mudahan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1525122219711433196-236553941567548533?l=kangjumari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangjumari.blogspot.com/feeds/236553941567548533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1525122219711433196&amp;postID=236553941567548533&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/236553941567548533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/236553941567548533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangjumari.blogspot.com/2007/12/masalah-pendidikan-kita.html' title='MASALAH PENDIDIKAN KITA'/><author><name>kang jumari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03274637909033545700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_h2jQcs50AGU/R3Z7VoAS6EI/AAAAAAAAAAo/mhkKeJSK4ns/S220/Untitled-1+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1525122219711433196.post-4071131555390439246</id><published>2007-12-26T10:44:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T10:46:58.228-08:00</updated><title type='text'>KURIKULUM DI INDONESIA;Pembaharuan Mengikuti Perkembangan Ataukah Kebijakan?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;KURIKULUM DI INDONESIA;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Pembaharuan Mengikuti Perkembangan Ataukah Kebijakan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Sejak isu reformasi pendidikan digulirkan, maka banyak bermunculan gagasan-gagasan pembaharuan pendidikan. Reformasi sebagai sebuah gerakan yang memiliki perspektif sejarah politik monumental, karena era reformasi menjadi era pemerintahan substitusi pemerintahan orde baru. Tentunya gagasan reformasi pendidikan ini memiliki momentum yang amat mendasar dan berbeda dengan gagasan yang sama pada era sebelumnya. Salah satu gagasan yang muncul adalah lahirnya UU No. 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah yang meletakkan sektor pendidikan sebagai salah satu sektor pembangunan yang berbasis kedaerahan lainnya dan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebagai pengganti UU No. 2 tahun 1989.&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kedua undang-undang tersebut membawa perspektif baru yang amat revolusioner dalam konteks perbaikan sektor pendidikan, yang mendorong&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendidikan sebagai urusan publik dan urusan masyarakat baik dalam kebijakan kurikulum, manajemen maupun berbagai kebijakan pengembangan institusi pendidikan itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Arah reformasi dalam mewujudkan pengembangan pendidikan terkait dengan kebijakan kurikulum adalah ikut diperbaharuinya kurikulum yang ada sebelumnya dari kurikulum 1994 diperbaharui menjadi kurikulum 2004 atau KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Selang dua tahun kemudian KBK pun telah mengalami pembaharuan kembali menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) atau kurikulum 2006. Dari perubahan yang terjadi, menurut Ki Supriyoko, mengatakan bahwa ganti kurikulum sebagai problem baru pendidikan. Semisal berkaitan dengan waktu, penggantian kurikulum di Indonesia terdapat semacam konvensi bahwa penggantian kurikulum biasanya dilakukan sekitar sepuluh tahun dari masa berlakunya, kurikulum 1975 usianya sembilan tahun ketika diganti dengan kurikulum 1984. Kurikulum 1984 usianya sepuluh tahun ketika diganti dengan kurikulum 1994 dan kurikulum 1994 usianya sepuluh tahun ketika diganti dengan KBK atau kurikulum 2004. Namun, menimbulkan suatu pertanyaan, ketika KBK diganti KTSP. KBK yang seharusnya diganti sekitar tahun 2014, tetapi dalam jangka waktu dua tahun sudah berganti dengan KTSP, kenapa?&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Oleh karena itu, problem pendidikan di Indonesia masih cukup kompleks. Di mana hal itu membutuhkan pemecahan yang serius dan kontinyu. Sehingga &lt;i&gt;outcome&lt;/i&gt; pendidikan tersebut berkwalitas dan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman yang global serta tidak lepas dari nilai-nilai etika-moral yang ada. Dengan kata lain, tercipta insan seutuhnya. Dengan demikian, penulis mencoba untuk menggali problem yang terdapat dalam dunia pendidikan, khususnya kurikulum. Apalagi, kurikulum merupakan salah satu bagian penting terjadinya suatu proses pendidikan. Karena suatu pendidikan tanpa adanya kurikulum akan kelihatan amburadul dan tidak teratur. Hal ini akan menimbulkan perubahan dalam perkembangan kurikulum, khususnya di Indonesia, apakah perubahan atau pembaharuan itu didasarkan atas perkembangan atau kebijakan dari pemerintah? Maka itu perlu sumbangsih dari para calon pakar pendidikan, khususnya para mahasiswa Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya konsentrasi Pendidikan Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum: sebuah makna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum yang berasal dari kata &lt;i&gt;curriculum&lt;/i&gt; yang berarti lintasan untuk balap kereta kuda yang biasa dilakukan oleh bangsa Romawi pada zaman kaisar Gaius Julius Caesar di abad pertama tahun masehi. Namun, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan suatu konsep yang abstrak.&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sehingga kemudian melahirkan banyak pengertian tentang kurikulum, diantaranya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Schubert berpendapat      sederhana bahwa kurikulum sebagai mata pelajaran, muatan hasil belajar,      adanya unsur reproduksi kebudayaan dan pembangunan sosial, serta      pentingnya kecakapan hidup.&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum merupakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seperangkat rancangan nilai, pengetahuan      dan ketrampilan yang harus ditransfer kepada peserta didik dan bagaimana      proses transfer tersebut harus dilaksanakan.&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt; &lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum sebagai      sesuatu yang direncanakan sebagai pegangan guna mencapai tujuan      pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum merupakan      suatu cara untu mempersiapkan anak agar berpartisipasi sebagai anggota      yang produktif dalam masyarakatnya.&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;      &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Beragam pengertian tersebut selalu akan menampilkan hal-hal yang berbeda, bahkan sering pula bertentangan. Namun, pada dasarnya sama sebagai bentuk upaya untuk memberikan atau menggali pengetahuan, pengalaman yang ada dalam diri masing-masing peserta didik agar mampu menghadapi masa depan dengan lebih gemilang dengan materi, metode, fasilitas yang telah ada. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sementara itu, Mochtar Buchori mengatakan bahwa kurikulum sebagai &lt;i&gt;blue print&lt;/i&gt; (cetak biru), sebagai suatu penggambaran terhadap sosok manusia yang diharapkan akan tumbuh setelah menjalani semua proses pendidikan, pengajaran dan pelatihan yang digariskan dalam kurikulum.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Ibarat suatu proses pendirian bangunan kurikulum merupakan sketsa awal yang menggambarkan bangunan tersebut akan didirikan dalam bentuk model yang telah dibayangkan dan diinginkan oleh pemiliknya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Adapun kuatnya suatu bangunan, bagusnya suatu model&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang telah digambarkan sebelumnya sangat bergantung kepada kecanggihan para tukang yang menggarap bangunan tersebut, termasuk juga mutu meteri yang digunakan untuk mendirikan bangunan itu. Para tukang ini sebagai pendidik, sedangkan materi bangunan ialah seluruh bahan yang digunakan untuk melaksanakan proses pendidikan terhadap siswa yang sedang menjalani proses pertumbuhan menjadi sosok manusia ideal yang dicita-citakan. Dengan demikian, kurikulum bukanlah satu-satunya faktor penentu yang mendukung lahirnya jati diri seseorang di masyarakat di kemudian hari. Meskipun begitu, kurikulum menjadi perangkat yang strategis untuk menyemaikan kepentingan dan membentuk konsepsi dan perilaku individu masyarakat.&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum di Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Melongok kondisi Indonesia jika membicarakan pendidikan apalagi persoalan kurikulum untuk saat ini sangat kompleks. Beragam kurikulum yang pernah ada di Indonesia ternyata masih belum mampu memberikan solusi yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Kondisi seperti itu seiring dengan di tandai oleh rendahnya mutu kelulusan, fasilitas dan sarana yang kurang memadai, serta banyak hal lain yang melingkupi problematika pendidikan kita. Begitu kompleksnya problem pendidikan di Indonesia berujung kepada keprihatinan terhadap kualitas sumber daya manusianya. Sebagai catatan Human Development Report tahun 2003 versi UNDP menyatakan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia berada di urutan 112, jauh di bawah Filipina (25), Malaysia (58), Brunai Darussalam (31) dan Singapura (28).&lt;a style="" href="#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kenyataan seperti ini mengharuskan bangsa Indonesia untuk melakukan pembenahan-pembenahan, khususnya sektor pendidikan. Karena dengan pendidikan itu akan mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, mandiri serta mampu menghadapi beragam tantangan zaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum sebagai rancangan, &lt;i&gt;disaign&lt;/i&gt; dengan segala bentuk materi, pelaksana, fasilitas dan sebagainya yang mampu membentuk dan mencetak generasi atau SDM yang sesuai dengan cita-cita atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Hal ini menunjukkan peran penting kurikulum demi kemajuan bangsa. Akan tetapi, konsep atau sketsa kurikulum yang ideal tanpa didukung oleh pelaksana yang handal dan segala fasilitas yang memadai tentu &lt;i&gt;nonsen&lt;/i&gt; akan menghasilkan mutu yang bagus sesuai harapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dalam kaitanya dengan kurikulum ini perlu kita ketahui bahwa berdasarkan perjalanan sejarah pendidikan di Indonesia telah terdapat beberapa kurikulum yang pernah dilalui dan itu telah mengalami banyak perubahan sesuai dengan kondisi saat itu, di antaranya: tahun 1947, 1952, 1968, 1984, 1994 dan tahun 2004. Perubahan tersebut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat.&lt;a style="" href="#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum 1968 dan sebelumnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Awalnya pada tahun 1947, kurikulum saat itu diberi nama &lt;i&gt;Rentjana Pelajaran 1947&lt;/i&gt;. Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai &lt;i&gt;development conformism&lt;/i&gt; lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setelah &lt;i&gt;Rentjana Pelajaran 1947&lt;/i&gt;, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama &lt;i&gt;Rentjana Pelajaran Terurai 1952&lt;/i&gt;. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama &lt;i&gt;Rentjana Pendidikan 1964&lt;/i&gt;. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, &lt;i&gt;keprigelan&lt;/i&gt; dan jasmani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.&lt;a style="" href="#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum 1975&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan pendekatan-pendekatan di antaranya sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Berorientasi tujuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Menganut pendekatan &lt;i&gt;integrative &lt;/i&gt;dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Menekankan kepada efisiensi dan efektifitas dalam hal daya dan waktu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan prosedur pengembangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sistem instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dipengaruhi pseikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang jawab) dan latihan (drill).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum 1975 hingga menjelang tahun 1983 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratkan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984. Karena itula pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 oleh kurikulum 1984.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum 1984&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang berlum tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengan kemampan anak didik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaanya di sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan di setiap jenjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat atas termasuk pendidikan luar sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Atas dasar perkembangan itu, maka menjelang tahun 1983 antara kebutuhan atau tuntutan masyarakat dan ilmu pengetahuan/teknologi terhadap pendidikan dalam kurikulum 1975 dianggap tidak sesuai lagi. Oleh karena itu diperlukan perubahan kurikulum. Kurikulum 1984 tampil sebagai perbaikan atau revisi terhadap kurikulum 1975. Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;Þ&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;Þ&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;Þ&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt; tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Þ&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Konsep-konsep yang dipelajari siswa harus didasarkan kepada pengertian, baru kemudian diberikan latihan setelah mengerti. Untuk menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Þ&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa. Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret, semikonkret, semiabstrak, dan abstrak dengan menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan. Dari yang mudah menuju ke sukar dan dari sederhana menuju ke kompleks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Þ&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses adalah pendekatan belajat mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya. Pendekatan keterampilan proses diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pelajaran.&lt;a style="" href="#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum 1994&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pada kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini terjadi karena berkesesuaian suasan pendidikan di LPTK (lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar. Akibatnya, pada saat itu dibentuklah Tim Basic Science yang salah satu tugasnya ikut mengembangkan kurikulum di sekolah. Tim ini memandang bahwa materi (isi) pelajaran harus diberikan cukup banyak kepada siswa, sehingga siswa selesai mengikuti pelajaran pada periode tertentu akan mendapatkan materi pelajaran yang cukup banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem catur wulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban) dan penyelidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pengajaran dari hal yang konkrit ke ha yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit dan dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/ substansi setiap mata pelajaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Permasalahan di ats saat berlangsungnya pelaksanaan kurikulum 1994. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan itu diberlakukannya suplemen kurikulum 1994. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum, yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan brbagai aspek terkait, seperti tujuan materi pembelajaran, evaluasi dan sarana-prasarana termasuk buku pelajaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap, yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang.&lt;a style="" href="#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum 2004&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Implementasi pendidikan di sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum. Salah satu bentuk invovasi yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan inovasi di bidang kurikulum. Kurikulum 1994 disempurnakan lagi sebagai respon terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi disentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU No. 22 dan 25 tentang otonomi daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pada era ini kurikulum yang dikembangkan diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). KBK adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penilaian,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pengembangan kurikulum sekolah (Depdiknas, 2002). Kurikulum ini menitik beratkan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap serangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggungjawab.&lt;a style="" href="#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Adapun karakteristik KBK menurut Depdiknas (2002) adalah sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;o&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupu klasikal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;o&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;o&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;o&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;o&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.&lt;a style="" href="#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Untuk itu, agar KBK mampu konsisten dan valid dalam operasionalnya, terdapat beberapa asumsi-asumsi yang mampu tercapainya hal tersebut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;s&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Banyak sekolah yang memiliki sedikit guru profesional dan tidak mampu melaksanakan pembelajaran secara optimal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;s&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Banyak sekolah yang hanya mengoleksi sejumlah mata pelajaran dan pengalaman, sehingga mengajar diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi yang terdapat dalam setiap mata pelajaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;s&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Peserta didik bukanlah tabung kosong atau kertas putih yang dapat diisi atau ditulis sekehendak guru, melainkan individu yang memiliki sejulah potensi yang berlu dikembangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;s&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Peserta didik memiliki potensi yang berbeda dan bervariasi, dalam hal tertentu memiliki potensi tinggi, tetapi dalam hal lain, mungkin biasa saja, bahkan rendah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;s&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pendidikan berfungsi mengkondisikan lingkungan yang membantu peserta didik mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki secara optimal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;s&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum sebagai rencana pembelajaran harus berisi kompetensi-kompetensi potensial yang tersusun secara sistematis, sebagai jabaran dari seluruh aspek kepribadian peserta didik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;s&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum sebagai proses pembelajaran harus menyediakan berbagai kemungkinan kepada seluruh peserta didik untuk mengembangkan berbagai peristiwanya.&lt;a style="" href="#_ftn16" name="_ftnref16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kurikulum ini dikatakan sebagai perbaikan dari KBK yang diberi nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP ini merupakan bentuk implementasi dari UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan &lt;i&gt;delapan standar nasional&lt;/i&gt; pendidikan, yaitu: (1)&lt;i&gt;standar isi, (2)standar proses, (3)standar kompetensi lulusan, (4)standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5)standar sarana dan prasarana, (6)standar pengelolaan, standar pembiayaan&lt;/i&gt;, dan (7)&lt;i&gt;standar penilaian pendidikan.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, maka dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pemerintah telah menggiring pelaku pendidikan untuk mengimplementasikan kurikulum dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan, yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt; dilaksanakan di setiap satuan pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Secara substansial, pemberlakuan (baca: penamaan) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. Akan tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah &lt;i&gt;subject matter&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;), yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Menekankan pada      ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Berorientasi pada hasil      belajar (learning outcomes) dan keberagaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Penyampaian dalam      pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Sumber belajar bukan      hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur      edukatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Penilaian menekankan      pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu      kompetensi. .&lt;a style="" href="#_ftn17" name="_ftnref17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan KBK tahun 2004 dengan KBK tahun 2006 (versi KTSP), bahwa sekolah diberi kewenangan penuh dalam menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar yang ditetapkan, mulai dari tujuan, visi-misi, struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan hingga pengembangan silabusnya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pembaharuan mengikuti perkembangan ataukah kebijakan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dari berbagai kurikulum yang dilalui oleh Indonesia ini, kiranya dapat ditelisik bahwa kurikulum tersebut mengalami pembaharuan dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan kondisi zaman yang menuntut memang suatu kurikulum harus berubah ataukah terdapat suatu &lt;i&gt;presser&lt;/i&gt; dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan? Problem seperti ini bukan suatu hal baru bagi pendidikan kita. Pada era sebelum reformasi banyak kalangan, para pakar pendidikan mengkritik hal itu dengan istilah ganti menteri, ganti kebijakan&lt;a style="" href="#_ftn18" name="_ftnref18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Tetapi untuk saat ini, akankah hal tersebut terjadi pula? Jika pendapat tokoh pendidikan Ki Supriyoko sebagaimana tersebut sebelumnya, bahwa pergantian kurikulum biasanya terjadi sepuluh tahun kemudian dari kurikulum sebelumnya, namun jika kita menyoroti KBK ke KTSP atau kurikulum 2004 ke kurikulum 2006 menunjukkan kurang dari sepuluh tahun, tentu akan muncul suatu pertanyaan, mengapa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kalau kita mencermati secara mendalam implementasi KBK pada tingkat &lt;i&gt;grassroot&lt;/i&gt;, yakni sekolah sebagai pelaksana dari KBK tersebut. Pada kenyataanya tidak setiap sekolah sudah mampu melaksanakan KBK ini, bahkan mungkin sekolah tersebut masih taraf &lt;i&gt;trial and error&lt;/i&gt; terhadap KBK. Karena kurangnya dukungan dari SDM sekolah tersebut yang belum menguasai tentang KBK. Nah, apakah ini tidak secara langsung menunjukkan bahwa penentu kebijakan tersebut terlalu tergesa-gesa dalam mengadakan perubahan, tanpa harus mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, misal ketidaksiapan para &lt;i&gt;tukang didik&lt;/i&gt; (pendidik/guru) yang akan terjun langsung mengoperasikan mesin pendidikan. Karena suatu konsep yang ideal tetapi belum mampu teraplikasikan dalam realita akan menghasilkan suatu kesia-siaan. &lt;i&gt;Tentu menjadi renungan bagi kita&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Menurut, S. Nasution bahwa pembaharuan kurikulum mengikuti dua prosedur, yaitu &lt;i&gt;Administrative approach &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;grass roots approach&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Administrative approach&lt;/i&gt;, yaitu suatu perubahan atau pembaharuan yang direncanakan oleh pihak atasan untuk kemudian diturunkan kepada instansi-instansi bawahan sampai kepada guru-guru, jadi &lt;i&gt;from the top down,&lt;/i&gt; dari atas ke bawah, atas inisiatif para administrator. Yang kedua, &lt;i&gt;grass roots approach&lt;/i&gt;, yaitu yang dimulai dari akar, &lt;i&gt;from the bottom up&lt;/i&gt;, dari bawah ke atas, yakni dari pihak guru atau sekolah secara individual dengan harapan agar meluas ke sekolah-sekolah lain.&lt;a style="" href="#_ftn19" name="_ftnref19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Namun, pola seperti itu bergantung kepada pengelolanya, yakni pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Dan bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Kita tentu dapat obyektif dalam mencermatinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Penutup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sudah bukan hal baru lagi bagi kita bangsa Indonesia dalam mengkaji dan memperdebatkan tentang problematika kurikulum di Indonesia. Karena kondisi perkembangan pendidikan di Indonesia, bahkan mungkin di belahan negara lain mengalami problem yang sama. Secara tidak langsung pendidikan tersebut mampu menyepadani dengan tuntutan kondisi zaman yang berkembang begitu cepat. Apalagi disertai dengan perkembangan arus informasi dan teknologi, tidak bisa tidak, kondisi seperti ini akan menuntut perubahan dalam pendidikan. Di mana hal itu nantinya akan berefek kepada perubahan kurikulum, sebagai &lt;i&gt;main concept&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;sketsa, blue print&lt;/i&gt; kemanakah pendidikan kita, generasi kita akan dibawa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Berkaitan dengan perubahan, pembaharuan dan perbaikan pendidikan (kurikulum) membutuhkan peran serta berbagai pihak. Akan tetapi hal itu tidak sampai mengesampingkan antara satu pihak dengan pihak lain. Agar dalam mewujudkan perubahan dan pembaharuan dapat sejalan dengan baik, serasi dan harmonis. Sehingga apa yang menjadi tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;" lang="FI"&gt;Daftar Pustaka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;a href="http://education-indonesia.blogspot.com/2007/05/kurikulum-beridentitas-kerakyatan.html"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;http://education-indonesia.blogspot.com/2007/05/kurikulum-beridentitas-kerakyatan.htm&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;a href="http://rbaryans.wordpress.com/2007/05/16/bagaimanakah-perjalanan-kurikulum-nasional-pada-pendidikan-dasar-dan-menengah/"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;http://rbaryans.wordpress.com/2007/05/16/bagaimanakah-perjalanan-kurikulum-nasional-pada-pendidikan-dasar-dan-menengah/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;a href="http://re-searchengines.com/0607agung.html"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;http://re-searchengines.com/0607agung.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;&lt;a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0603/20/opi03.htm"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;http://www.suaramerdeka.com/harian/0603/20/opi03.htm&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;u&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="DE"&gt;Mulyasa, E., &lt;i&gt;Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik,, Implementasi dan Inovasi, &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bandung: Remaja Rosdakaraya, 2004.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="DE"&gt;Nasution, S.,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Azas-Azas Kurikulum&lt;/i&gt;, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="DE"&gt;Rahmadhi, Slamet, &lt;i&gt;Masalah Pendidikan di Indonesia&lt;/i&gt;, Jakarta: CV Miswar, 1989.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Rosyada, Dede, &lt;i&gt;Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan,&lt;/i&gt; Jakarta: Kencana, 2004.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="DE"&gt;Suparman,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;M. Atwi, &lt;i&gt;Konsep Dasar Pengembangan Kurikulum&lt;/i&gt;, Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka, 2001.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Widiastono, Tonny D., &lt;i&gt;Pendidikan Manusia Indonesia&lt;/i&gt;, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="DE"&gt;Yulaelawati, Ella, &lt;i&gt;Kurikulum dan Pembelajaran: Filosofi, Teori dan Aplikasi&lt;/i&gt;, Bandung: Pakar Raya, 2004.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Zamroni, &lt;i&gt;Paradigma Pendidikan Masa Depan&lt;/i&gt;, Yogyakarta: BIGRAF Publishing,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2000.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Dede Rosyada, &lt;i&gt;Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan &lt;/i&gt;(Jakarta: Kencana, 2004), h. 12.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0603/20/opi03.htm"&gt;&lt;span dir="ltr" style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;http://www.suaramerdeka.com/harian/0603/20/opi03.htm&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;M. Atwi Suparman,&lt;i&gt; Konsep Dasar Pengembangan Kurikulum&lt;/i&gt; (Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka, 2001), h. 2.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Ella Yulaelawati, &lt;i&gt;Kurikulum dan Pembelajaran: Filosofi, Teori dan Aplikasi&lt;/i&gt; (Bandung: Pakar Raya, 2004), h. 26.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Zamroni, &lt;i&gt;Paradigma Pendidikan Masa Depan&lt;/i&gt; (Yogyakarta: BIGRAF Publishing,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2000),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;h. 129.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;S. Nasution, &lt;i&gt;Azas-Azas Kurikulum&lt;/i&gt; (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), h. 7.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Tonny D. Widiastono, &lt;i&gt;Pendidikan Manusia Indonesia&lt;/i&gt; (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004), h. 303.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;a href="http://education-indonesia.blogspot.com/2007/05/kurikulum-beridentitas-kerakyatan.html"&gt;&lt;span dir="ltr" style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;http://education-indonesia.blogspot.com/2007/05/kurikulum-beridentitas-kerakyatan.htm&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;a href="http://re-searchengines.com/0607agung.html"&gt;&lt;span dir="ltr" style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;http://re-searchengines.com/0607agung.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;a href="http://rbaryans.wordpress.com/2007/05/16/bagaimanakah-perjalanan-kurikulum-nasional-pada-pendidikan-dasar-dan-menengah/"&gt;&lt;span dir="ltr" style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;http://rbaryans.wordpress.com/2007/05/16/bagaimanakah-perjalanan-kurikulum-nasional-pada-pendidikan-dasar-dan-menengah/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Ibid.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Ibid.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn13"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Ibid&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn14"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;E. Mulyasa, &lt;i&gt;Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik,, Implementasi dan Inovasi&lt;/i&gt; (Bandung: Remaja Rosdakaraya, 2004), h. 39.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn15"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Ibid. 42.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn16"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref16" name="_ftn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Ibid. 56-57.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn17"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref17" name="_ftn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://rbaryans.wordpress.com/2007/05/16/bagaimanakah-perjalanan-kurikulum-nasional-pada-pendidikan-dasar-dan-menengah/"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;http://rbaryans.wordpress.com/2007/05/16/bagaimanakah-perjalanan-kurikulum-nasional-pada-pendidikan-dasar-dan-menengah/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn18"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref18" name="_ftn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Slamet Rahmadhi, &lt;i&gt;Masalah Pendidikan di Indonesia&lt;/i&gt; (Jakarta: CV Miswar, 1989), h. 80.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn19"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref19" name="_ftn19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;S. Nasution, &lt;i&gt;Asas-Asas Kurikulum........ &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;h. 256.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1525122219711433196-4071131555390439246?l=kangjumari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangjumari.blogspot.com/feeds/4071131555390439246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1525122219711433196&amp;postID=4071131555390439246&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/4071131555390439246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/4071131555390439246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangjumari.blogspot.com/2007/12/kurikulum-di-indonesiapembaharuan.html' title='KURIKULUM DI INDONESIA;Pembaharuan Mengikuti Perkembangan Ataukah Kebijakan?'/><author><name>kang jumari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03274637909033545700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_h2jQcs50AGU/R3Z7VoAS6EI/AAAAAAAAAAo/mhkKeJSK4ns/S220/Untitled-1+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1525122219711433196.post-6399882254151433715</id><published>2007-12-26T10:42:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T10:44:02.617-08:00</updated><title type='text'>LEMBAGA INFORMAL PENDIDIKAN TINGGI ISLAM;</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" lang="SV"&gt;LEMBAGA INFORMAL PENDIDIKAN TINGGI ISLAM;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h1 style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Halaqah, Observatorium Dan Perpustakaan&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h2 style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pendahuluan&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Sejauh ini, tidak banyak kajian yang komprehensif tentang bentuk-bentuk maupun karakteristik-karakteristik lembaga pendidikan tinggi yang berlangsung pada periode klasik (mulai abad ke-2-13 M). Upaya pendiskripsian yang dilakukan oleh kebanyakan ilmuwan cenderung lebih banyak menekankan pada sebuah &lt;i&gt;produk&lt;/i&gt; (manifestasi) dari pada sebagai &lt;i&gt;proses&lt;/i&gt;. Akibatnya timbullah masalah dilematis di kalangan para ilmuwan yang senantiasa menurut pembuktian, sebagai reaksi terhadap munculnya stereotype (penisbatan) pendidikan formal dan informal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Kajian berikut ini berupaya mendiskripsikan secara kritis lembaga informal dari sisi karakteristik yang ada sekaligus mengklasifikasikan indikator-indikator yang termasuk dalam lingkup pendidikan informal, yaitu meliputi halaqah, observatorium, dan perpustakaan. Untuk manambah kejelasan ketiga unsur di atas akan diulas sekitar keterkaitan perpustakaan dengan lahirnya 9 (sembilan) nama perpustakaan yang berkembang dalam tradisi keilmuan Islam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pembahasan&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39.6pt; text-indent: -21.6pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lembaga Informal Pendidikan Tinggi Dan Karakteristiknya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 39.6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Untuk memahami lebih jauh apa dan bagaimana lembaga informal pendidikan tinggi itu, barangkali kita perlu mengkaji terlebih dahulu mengenai beberapa faktor yang menjadi latar belakang pendiriannya. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada tiga hal yang ditengarai sebagai faktor yang melandasi dilembagakannya pendidikan tinggi informal, yakni:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 57.6pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keinginan para ilmuwan dan para sarjana dari kalangan muda untuk saling berkomunikasi dan saling mendorong semangat keilmuan mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 57.6pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kehausan akan ilmu pengetahuan yang didorong dengan adanya kebutuhan untuk memperluas pengetahuan umum dan untuk memahami gejala-gejala alam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 57.6pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Semangat dalam mempertahankan keimanan Islam dalam menghadapi misionaris agama-agama lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 39.6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Secara eksplisit karakteristik pendidikan formal dan informal yang berlangsung pada periode klasik sulit dibedakan.&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Namun ada sisi lain yang dapat kita kaji secara kritis untuk membedakan diantara keduanya, yaitu dari segi sumber pendanaan yang diterima dari negara. Dana yang diterima pendidikan formal sifatnya langsung atau dalam istilah Azyumardi disebut &lt;i&gt;kontan&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, sedang dalam pendidikan informal sifatnya tidak langsung, misalnya saja melalui ketentuan hukum perwakafan. Untuk menambah kejelasan, berikut ini akan diklasifikasikan beberapa faktor yang termasuk dalam karakteristik pendidikan informal, meliputi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Lokasi&lt;span style=""&gt;                    &lt;/span&gt;: selain masjid dan madrasah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kurikulum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;: pengetahuan umum lebih dominan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Metode&lt;span style=""&gt;                  &lt;/span&gt;: bebas tidak terikat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Subsidi negara&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: tidak diberikan secara langsung.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebutan guru&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: lebih popular dengan sebutan shaikh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 39.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kelima faktor itulah yang dapat ditengarai sebagai karakteristik pendidikan informal. Namun, tidak menutup kemungkinan munculnya unsur ambiguitas diantara faktor-faktor yang terkait.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h2 style="margin-left: 39.6pt; text-indent: -21.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Karakteristik Lembaga Informal Pendidikan Tinggi&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent2"&gt;Sub judul ini hendak mengkaji lembaga informal pendidikan tinggi dari segi indikator-indikatornya dan bagaimana simpul-simpul indikator tersebut mengalami rekayasa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h2 style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Halaqah&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Halaqah (lingkaran studi) adalah merupakan forum kajian keilmuan yang sistem penyelenggaraanya dimulai dengan memberikan garis-garis umum mata pelajaran, dilanjutkan pelajaran secara detail dan mendalam tentang masing-masing sub materi. Lalu diakhiri dengan evaluasi dalam bentuk diskusi. Proses ini penekanannya terletak pada analisis dan pengembangan informal tentang pandangan seorang guru yang disebut dengan &lt;i&gt;shaikh&lt;/i&gt;. Dengan demikian maka kurikulum sebuah halaqah lebih banyak tergantung pada pengalaman dan pengetahuan sang guru atau pada suatu ijazah atau sertifikasi yang dimiliki seorang guru disaat menempuh perjalanan keilmiahannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Dalam prakteknya, halaqah yang berkembang pada periode klasik dengan mengacu pada karakteristik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di atas dapat diklasifikasikan pada dua macam bentuk pendidikan yaitu formal dan informal. Formulasi formal dalam wacana ini adalah halaqah yang diselenggarakan di masjid-masjid. Sedangkan untuk informalnya adalah yang diselenggarakan diluar atau selain di masjid, seperti dilingkungan istana, dirumah-rumah pembesar negara, di perpustakaan, took-toko buku, rumah-rumah para ilmuan. Contoh dalam sejarah kita mengenal halaqah al Ghazali, halaqah Ibn Killis, halaqah al Fatimy dan lain-lain.&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Secara garis besar fungsi halaqah dapat ditinjau dari dua segi, yaitu (a) sebagai forum diskusi dan (b) sebagai sanggar sastra.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 75.7pt; text-indent: -21.7pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Sebagai forum diskusi,&lt;/i&gt; pada forum ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;para siswa diberi kesempatan untuk melakukan refleksi tentang masalah-masalah penting dan sekaligus menunjukkan ketrampilannya dalam beradu argumentasi. Topik yang menjadi bahan diskusi seringkali dikaitkan dengan kehidupan intelektual Islam atau persoalan-persoalan aktual yang lebih banyak ditentukan oleh shaikh yang bersangkutan.&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 75.7pt; text-indent: -21.7pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Sebagai sanggar sastra&lt;/i&gt;. Halaqah dalam wacana ini pada awalnya terbatas dikalangan keluarga istana. Akhirnya membudaya dikalangan para penguasa. Kelompok-kelompok bangsawan bawahan. Titik focus penyelenggaraannya cenderung mengukuhkan kembali ajaran-ajaran tradisional. Namun pada perkembangan selanjutnya mengarah sebagai media masuknya pemikiran intelektual dan sains Yunani ke dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;peradaban Islam.&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Popularitas sebuah sanggar banyak tergantung pada kekayaan dan kekuatan seorang &lt;i&gt;Patron&lt;/i&gt; (pemilik sanggar ) dalam menarik para cendekiawan pada kelompok masyarakat tertentu. Yaitu terdiri dari kaum cerdik dibidang matematika, filsafat, teologi, pejabat, politikus dan pemimpin keagamaan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h2 style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Observatorium&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 54pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Pembangunan observatorium dibeberapa wilayah Islam merupakan manifestasi dari kepedulian khalifah dan pembesar-pembesar negara. Khalifah Abbasiyah yang kali pertama mendirikan observatorium adalah Al Ma’mun (813-833 M).&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Al Khawarizmi (W. 863 M) dikukuhkan sebagai pengarah dan pengelola dibidang studi penelitian pada lembaga tersebut. Dari tahun ke tahun observatorium yang ada senantiasa mengalami perkembangan dan kemajuan, lebih-lebih menjelang abad ke-10. Menurut data yang ditulis oleh Husein, pada penghujung abad ke-9 observatorium banyak mendapat dukungan dari para penguasa. Sehingga sebagai ajang penelitian dan eksperimen observatorium merupakan wahana pendidikan yang paling bergengsi pada saat itu.&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Sepanjang masa keterbukaan (sebelum pengaruh relegius Asy ‘ariyah) observatorium banyak menelorkan ilmuwan-ilmuwan multi disiplin ternama&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang banyak memberikan kontribusi yang cukup pesat dalam kemajuan intelektual Islam, baik dibidang Astronomi maupun di bidang kedokteran. Astronomi merupakan ilmu yang berguna bagi umat Islam dalam kaitannya dengan pengaturan aspek-aspek keimanan mereka, seperti penentuan arah kiblat, waktu-waktu sholat, puasa dan lain sebagainnya. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Teori-teori astronomi tidak saja mengkaji benda-benda angkasa dengan garis bujur dan lintang, tetapi juga meliputi fisika dan matematika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sedangkan dibidang kedokteran, mula-mula melalui karya Galen, seorang dokter dan sekaligus seorang penulis paripatetik yang hidup pada paruh terakhir abad ke-2.&lt;a style="" href="#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dalam observatorium inilah berbagai penelitian dan percobaan dibidang kedokteran dilakukan, baik yang berlandaskan teori-teori kedokteran maupun pengobatan mistik yang berlandaskan pada pandangan esoteric tentang angka-angka (matematika phytagoras). Untuk melengkapi kajian ini, berikut nama tokoh-tokoh besar yang paling banyak bersandar pada observatorium:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kedokteran&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, meliputi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;F&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ibn Hayyan (721-815)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;F&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Al Rozi (844-925)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;F&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ibn Haytam (965-1035)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;F&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ibn Sina (980-1037&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Astronomi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, meliputi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;F&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;al Khawarizmi (W. 863)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;F&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;al Biruni (973-1051)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;F&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;al Wayyam (1050-1123)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;F&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;al Tusi (1201-1274) &lt;a style="" href="#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;0&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Perpustakaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 75.6pt; text-indent: -21.6pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Latar Belakang Berdirinya Perpustakaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 75.6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Munculnya sebuah pertanyaan mengapa perpustakaan didirikan ?, mengajak kita untuk mengkaji lebih jauh, dari berbagai disiplin ilmu.&lt;a style="" href="#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;1&lt;/span&gt; Namun sebelumnya, kita harus mengetahui apa yang dinamakan perpustakaan. Dalam buku &lt;i&gt;Pengantar Ilmu Perpustakaan&lt;/i&gt; dijelaskan bahwa batasan perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca dan bukan untuk dijual. Selain itu menurut &lt;i&gt;Webster’s Third Edition International Dictionary&lt;/i&gt; edisi 1961, bahwa perpustakaan adalah kumpulan buku, manuskrip dan bahan pustaka lainnya yang digunakan untuk keperluan studi atau bacaan, kenyamanan atau kesenangan. Lain pula halnya dengan pendapat &lt;i&gt;International of Library Association and Institution (IFLA)&lt;/i&gt; perpustakaan sebagai kumpulan materi tercetak dan media non cetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk digunakan pemakai.&lt;a style="" href="#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 75.6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Dari pemahaman arti tersebut di atas jika direlevansikan dengan konteks masa lalu bahwa munculnya suatu perpustakaan sebagai usaha untuk mengumpulkan manuskrip yang awalnya terkumpul dalam toko-toko buku pada saat itu. Karena selama kejayaan khalifah Abbasiyah, toko-toko buku berkembang pesat di wilayah Timur Tengah dan peran pentingnya menyebar di seluruh wilayah Islam khususnya melalui Afrika Utara dan semenanjung Iberia.&lt;a style="" href="#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 75.6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Dikarenakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;toko-toko buku menjadi pusat pengumpulan dan penyebaran buku-buku, tidaklah aneh lingkaran-lingkaran studi berkembang dan mengaitkan dirinya dalam bentuk bangunan (ruangan) khusus. Dengan demikian toko-toko buku dan para pemiliknya telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi kebangkitan intelektual Islam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 75.6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Pada mulanya perpustakaan didirikan oleh orang-orang kaya, kalangan bangsawan dan di istana-istana para penguasa. Karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Al Qur’an mengharuskan individu-individu untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dan menyediakan kekayaan yang dimilikinya bagi orang lain yang kurang beruntung, maka para hartawan membiayai pembangunan perpustakaan dan seringkali membukanya untuk para ilmuwan dan kadang-kadang untuk umum.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 75.6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Menurut penelitian perpustakaan-perpustakaan yang dibangun untuk umum terdiri dari ruangan-ruangan yang dilengkapi dengan karpet-karpet dan meja-meja yang mewah, dengan tinta dan kertas yang tersedia bagi para ilmuwan dan mahasiswa, seperti dibeberapa perpustakaan besar, khususnya Baghdad dan Kairo sebanyak 40 sampai 50 ruangan. Menurut Shalaby katalognya tersusun dengan baik di Madrasah Nizamiyah Baghdad memuat 6000 judul.&lt;a style="" href="#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 75.6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Perhatian dari para penguasa dan pembesar istana memotivasi tumbuhnya aktifitas penulisan dan penerjemahan buku-buku dalam jumlah yang sangat besar. Meningkatnya buku-buku berimplikasi pada meningkatnya perpustakaan-perpustakaan yang terbesar diberbagai wilayah Islam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 75.6pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h2 style="margin-left: 75.6pt; text-indent: -21.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Fungsi perpustakaan dan karakteristiknya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent3"&gt;Berdirinya perpustakaan merupakan reaktualisasi kepedulian ilmuwan-ilmuwan Islam dalam peningkatan potensi intelektual umat Islam khususnya dikalangan pelajar dan pemerhati lainnya bidang pengetahuan. Perpustakaan Islam dengan koleksi buku-bukunya memainkan peranan penting dalam perkembangan ilmu untuk kemudian meninggalkannya sebagai warisan peradaban yang amat berharga. Sebagai warisan peradaban Islam, perpustakaan juga mengemban fungsi penting lainnya dalam rangka membentuk penyebaran agama. Fungsi-fungsi tersebut antara lain:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 97.2pt; text-indent: -21.6pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Fungsi relegius.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 97.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;symbol kemajuan bangsa dan manifestasi dari perkembangannya budaya masyarakat Islam, perpustakaan berfungsi sebagai benteng pertahanan misi agama.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 97.2pt; text-indent: -21.6pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Fungsi akademis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 97.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Perpustakaan merupakan institusi pendidikan dan pelatihan, menyelenggarakan inti program pengajaran yang memperluas materi-materi pelajaran yang disajikan dalam perkuliahan atau diskusi-diskusi seperti dalam halaqah-halaqah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 97.2pt; text-indent: -21.6pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Fungsi Sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 97.2pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Perpustakaan merupakan tempat berkumpulnya masyarakata untuk menjalin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kehidupan sosialnya, terutama perpustakaan-perpustakaan yang merangkap jual beli buku.&lt;a style="" href="#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bila kita mengkaji karakteristik perpustakaan yang berkembang pada periode klasik, maka akan kita temukan 3 (tiga) type perpustakaan. Yaitu perpustakaan umum, perpustakaan semi publik , dan perpustakaan khusus. Adapun untuk kejelasannya sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;F&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Umum&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, dengan karakteristik sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendanaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;: subsidi dari negara dan masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lokasi&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Masjid, madrasah dan rumah sakit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Promotor&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;: penguasa bersama para ilmuwan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 145.6pt; text-indent: -55.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Fasilitas&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;: buku-bukunya lebih banyak dan lebih luas, dibuka untuk &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;                                        &lt;/span&gt;umum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;F&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Semi umum (semi publik)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, karakteristiknya sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendanaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;: mandiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lokasi&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Istana, rumah pejabat dan took buku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Promotor&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;: khalifah, pejabat dan para ilmuwan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Fasilitas&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: buku-bukunya banyak, peminjaman di batasi pada &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 126pt; text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kelompok tertentu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;F&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Khusus&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, dengan karakteristik sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendanaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;: mandiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lokasi&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: rumah-rumah kelompok intelektual&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Promotor&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;: ilmuwan dan pemerhati keislaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Fasilitas&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: buku-bukunya banyak tapi lebih spesifik dan tidak &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: 18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;dibuka untuk umum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari ketiga type perpustakaan di atas berkembanga nama-nama perpustakaan yang tersebar diberbagai wilayah Islam. Dari Dar al Hikmah lahirlah Dar al Ilm dan Dar al Kutub, Bait al Hikmah melahirkan Bait al Ilm dan Bait al Kutub dan dari Hizanah al Hikmah maka tercetuslah Hizanah al Ilm dan Hizanah al Kutub.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut catatan sejarah, perpustakaan terbesar dan termegah sepanjang periode klasik adalah: pertama, Dar al Hikmah dikota Baghdad, dibangun pada masa dinasti Abbasiyah oleh khalifah Harun al Rasyid (170-193 H).&lt;a style="" href="#_ftn16" name="_ftnref16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;6&lt;/span&gt; Kedua, Bait al Hikmah dibangun pada masa dinasti Bani Umayyah di kota Damaskus oleh khalifah Muawiyah (41-60 H).&lt;a style="" href="#_ftn17" name="_ftnref17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;7&lt;/span&gt; Dan ketiga Dar al Hikmah di kota Kairo, dibangun oleh Hakim Ibn Amri Allah (395 H) dari dinasti Fatimiyah.&lt;a style="" href="#_ftn18" name="_ftnref18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kesimpulan&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Dari pembahasan tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa usaha untuk memperoleh ilmu pengetahuan tidak semata-mata melalui pendidikan formal, akan tetapi dapat juga didapat dari pendidikan informal, apalagi hal itu di wilayah pendidikan tinggi. Adapun bentuk pendidikan informal dalam pendidikan tinggi –dalam hal ini perguruan tinggi- adalah halaqah, observatorium dan perpustakaan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Halaqah (lingkaran studi) merupakan bentuk pendidikan dengan cara melakukan diskusi-diskusi yang mengkaji suatu ilmu yang dipimpin oleh seorang &lt;i&gt;shaikh.&lt;/i&gt; Dalam perkembangannya sering diadakan oleh para mahasiswa di lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam khususnya di masjid-masjid. Selain itu adalah observatorium yang mungkin perkembangan saat ini berbentuk lembaga penelitian (laboratorium) yang terdapat diberbagai perguruan tinggi dalam usaha untuk menemukan sesuatu yang baru dalam bidang ilmu pengetahuan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Selain dari pada itu terdapat pula perpustakaan yang merupakan tempat berkembangnya khazanah ilmu pengetahuan, dimana di dalamnya tersimpan berbagai macam buku-buku sebagai manuskrip yang berisi berbagai bidang ilmu. Sehingga manuskrip itu dapat dikaji oleh para intelektual dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Dari ketiga bentuk lembaga informal pendidikan tinggi tersebut di atas berakibat pada muncul para ilmuwan di berbagai bidang ilmu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h5 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;BIBLIOGRAFI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt;Al Abrashi, Athiyah , &lt;i&gt;al Tarbiyah al Islamiyah, &lt;/i&gt;terj. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Bustami, Jakarta: Bulan Bintang, 1993.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Al Rahman, Fazl , &lt;i&gt;Islam,&lt;/i&gt; Bandung: Pustaka al Husna, 1984.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Azra, Azyumardi, &lt;i&gt;Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara&lt;/i&gt; Bandung: Mizan, 1995.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Basuki, Sulistyo , &lt;i&gt;Pengantar Ilmu Perpustakaan, &lt;/i&gt;Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ibn Dohaish, &lt;i&gt;Growth and Development of Islamic Libraries, &lt;/i&gt;artikel tttp. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Idris, Zahara,&lt;i&gt; Dasar-Dasar Kependidikan,&lt;/i&gt;Padang: Angkasa Raya Padang, tt. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Mursi, Muhammad Munir ,&lt;i&gt; al Tarbiyah al Islamiyah&lt;/i&gt;, Kairo: Alim al Kutub, 1977.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Nakosteen, Mehdi,&lt;i&gt; History of Islamic Origins of Western Education&lt;/i&gt;, Boulder: University of Colorado Press, 1964.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Nashr, Sayyed Husein, &lt;i&gt;Science and Civilization in Islam&lt;/i&gt; New York: American Library, 1968.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Shalabi, Ahmad, &lt;i&gt;Mausu’ah al Tarikh al Islami wa al Hadarah al Islamiyah &lt;/i&gt;Kairo: Maktabah al Nahdah al Misriyah, 1978.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Stanton, Charles Michael, &lt;i&gt;Pendidikan Tinggi Dalam Islam, &lt;/i&gt;terj. Affandi dan Hasan Asari Jakarta: PT Logos Publishing House, 1994.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Yatim, Badri,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Sejarah Peradaban Islam &lt;/i&gt;Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Zuhairini dkk, &lt;i&gt;Sejarah Pendidikan Islam,&lt;/i&gt; Jakarta: Bumi Aksara, 1994.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Zahara Idris,&lt;i&gt; Dasar-Dasar Kependidikan&lt;/i&gt; (Padang: Angkasa Raya Padang, tt), 58.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Azyumardi Azra, &lt;i&gt;Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara&lt;/i&gt; (Bandung: Mizan, 1995), 69.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Badri Yatim, &lt;i&gt;Sejarah Peradaban Islam &lt;/i&gt;(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), 151.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Charles Michael Stanton, &lt;i&gt;Pendidikan Tinggi Dalam Islam, &lt;/i&gt;terj. Affandi dan Hasan Asari (Jakarta: PT Logos Publishing House, 1994), 157.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Zuhairini dkk, &lt;i&gt;Sejarah Pendidikan Islam&lt;/i&gt; (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), 97-98.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ahmad Shalabi, &lt;i&gt;Mausu’ah al Tarikh al Islami wa al Hadarah al Islamiyah &lt;/i&gt;(Kairo: Maktabah al Nahdah al Misriyah, 1978), 21.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sayyed Husein Nasr, &lt;i&gt;Science and Civilization in Islam&lt;/i&gt; (New York: American Library, 1968), 80-81.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Fazl al Rahman, &lt;i&gt;Islam&lt;/i&gt; (Bandung: Pustaka al Husna, 1984), 136-137.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Stanton, &lt;i&gt;Pendidikan Tinggi…..73.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, 126-150.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;11&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibn Dohaish, &lt;i&gt;Growth and Development of Islamic Libraries &lt;/i&gt;(artikel tttp), 6. &lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;12&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sulistyo Basuki, &lt;i&gt;Pengantar Ilmu Perpustakaan &lt;/i&gt;(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991), 3.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn13"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;13&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Mehdi Nakosteen,&lt;i&gt; History of Islamic Origins of Western Education&lt;/i&gt;, (Boulder: University of Colorado Press, 1964), 73.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn14"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;14&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, 82.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn15"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;15&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Zuhairini, dkk, &lt;i&gt;Sejarah Pendidikan Islam, &lt;/i&gt;94-95.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn16"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref16" name="_ftn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;16&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt; Muhammad Munir Mursi, &lt;i&gt;al Tarbiyah al Islamiyah&lt;/i&gt;, (Kairo: Alim al Kutub, 1977), 105.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn17"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref17" name="_ftn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;17&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibn Dohaish, &lt;i&gt;Growth and Development, &lt;/i&gt;7.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn18"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref18" name="_ftn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;18&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt; Athiyah al Abrashi, &lt;i&gt;al Tarbiyah al Islamiyah, &lt;/i&gt;terj. &lt;/span&gt;Bustami (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), 88.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1525122219711433196-6399882254151433715?l=kangjumari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangjumari.blogspot.com/feeds/6399882254151433715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1525122219711433196&amp;postID=6399882254151433715&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/6399882254151433715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/6399882254151433715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangjumari.blogspot.com/2007/12/lembaga-informal-pendidikan-tinggi.html' title='LEMBAGA INFORMAL PENDIDIKAN TINGGI ISLAM;'/><author><name>kang jumari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03274637909033545700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_h2jQcs50AGU/R3Z7VoAS6EI/AAAAAAAAAAo/mhkKeJSK4ns/S220/Untitled-1+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1525122219711433196.post-5009496035570596931</id><published>2007-12-26T10:37:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T10:41:38.122-08:00</updated><title type='text'>ONTOLOGI PENDIDIKAN ISLAM</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;ONTOLOGI PENDIDIKAN ISLAM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendidikan pada bangsa kita telah terjadi dikotomi, yakni antara pendidikan umum dan pendidikan Islam. Dua hal ini telah menjadikan suatu problem tersendiri dalam dunia pendidikan. Karena salah satu sisi yang mengatasnamakan pendidikan Islam adalah sebuah pendidikan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang beragama Islam, nama lembaganya adalah lembaga Islam, dan materinya di dominasi oleh ajaran-ajaran Islam dari Al Qur'an dan Hadits yang merupakan landasan Islam. Jika demikian akan bermunculan pula yang dinamakan pendidikan Kristen, pendidikan Hindu dan lain-lain, bahkan bisa saja terjadi pendidikan Komunis, pendidikan Atheis dan lain sebagainya. Kemudian bagaimana dengan pendidikan umum, apakah yang dinamakan umum yang menyelenggarakan orang umum, tidak terdapat simbol-simbol apapun, baik itu Islam, Kristen, Hindu dan lain sebagainya. Apakah yang dinamakan pendidikan umum atau pendidikan saja itu selama ini seperti yang diselenggarakan oleh pemerintah yang berada dibawah naungan Diknas? Selanjutnya apa bedanya antara pendidikan atau pendidikan umum dengan pendidikan Islam. Tetapi dalam kajian kita saat ini lebih menekankan kepada hakikat pendidikan Islam (ontologi pendidikan Islam). Adapun sebagaimana dalam pertanyaan tersebut hanya membedakan wilayah umum ataukah wilayah Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam kajian tentang Filsafat Pendidikan Islam yang difokuskan kepada Ontologi Pendidikan Islam ini berusaha untuk mengupas tentang hakikat pendidikan Islam dan pola organisasi pendidikan Islam. Sementara itu, ontologi sendiri memiliki arti ilmu hakikat.&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kalau kita membicarakan ilmu hakikat ini sangat luas, apakah hakikat dibalik alam nyata ini, menyelidiki hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata yang terbatas oleh panca indera kita. Hakikat ialah realitas, realitas ialah ke-real-an, real yakni kenyataan yang sebenarnya, kenyataan yang sesungguhnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukanlah keadaan yang sementara atau keadaan yang menipu, bukan pula keadaan yang berubah dan bukan sesuatu yang fatamorgana. Jadi, ontologi pendidikan adalah menyelami hakikat dari pendidikan Islam, kenyataan dalam pendidikan Islam dengan segala pola organisasi yang melingkupinya, meliputi hakikat pendidikan Islam dan ilmu pendidikan Islam, hakikat tujuan pendidikan Islam, hakikat manusia sebagai subjek pendidikan yang ditekankan kepada pendidik dan peserta didik, dan hakikat kurikulum pendidikan Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Walaupun sebenarnya kajian yang penulis lakukan kali ini belum mampu mengupas secara mendalam tentang hakikat pendidikan Islam dan pola organisasi di dalamnya. Oleh karena itu, penting rasanya untuk diutarakan bahwa masukan, kritik, dari hasil diskusi akan sekiranya membantu dalam penyempurnaan dari tulisan ini dan akan lebih menyenangkan apabila dalam kritik dan saran tersebut disertai rujukan yang jelas, yang akan mempermudah dalam pelacakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hakikat Pendidikan Islam dan Ilmu Pendidikan Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berbicara masalah pendidikan merupakan suatu kajian yang cukup menarik, karena pemahaman makna tentang pendidikan sendiri pun juga beragam. Perlu diktehui bahwa banyak sekali istilah-istilah dalam pendidikan itu sendiri, seperti pengajaran, pembelajaran, paedagogi, pendidikan, pelatihan, dan lain sebagainya. Semua itu dapat kita jumpai dalam buku-buku yang mengkaji tentang pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendidikan menurut Marimba adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dalam pendidikan yang dijelaskan tersebut di atas, bahwa dalam pendidikan terdapat beberapa unsur:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Usaha      (kegiatan) yang bersifat bimbingan dilakukan secara sadar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada      pendidik, pemimpin atau penolong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada      peserta didik, anak didik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bimbingan      itu mempunyai dasar dan tujuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam      usaha itu terdapat alat-alat yang dipergunakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari pemaknaan tersebut, dinyatakan bahwa pendidikan terbatas kepada pengembangan anak didik oleh pendidik, jadi terdapat pengaruh dari orang per orang atau manusia lain secara sadar. Kemudian, bagaimana dengan pendidikan yang dilakukan secara pribadi, dilakukan oleh alam, dilakukan oleh alam gaib dan lain sebagainya? apakah seperti itu tidak termasuk pendidikan? Dan pemaknaan pendidikan menurut Marimba ini yang dikatakan terbatas, karena pemahaman arti tersebut hanya bersifat kelembagaan saja, baik di keluarga, sekolah maupun masyarakat. Kenyataanya bahwa dalam proses menuju perkembangan yang sempurna itu seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh orang lain, tetapi ia juga menerima pengaruh(entah itu bimbingan atau bukan, tidak menjadi soal) dari selain manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sementara itu, Al Syaibany memaknai pendidikan adalah suatu proses pertumbuhan membentuk pengalaman dan perubahan yang dikehendaki dalam tingkah laku individu dan kelompok hanya akan berhasil melalui interaksi seseorang dengan perwujudan dan benda sekitar serta dengan alam sekelilingnya, tempat ia hidup, benda dan persekitaran adalah sebagian alam luas tempat insan itu sendiri dianggap sebagai bagian dari padanya.&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dari pengertian tersebut dinyatakan bahwa al Syaibany memahami bahwa pendidikan tidak hanya dipengaruhi dari individu lain, akan tetapi adanya interaksi dengan alam sekelilingnya dimana ia berada dan ia menjadi bagian di dalamnya. Menurut Ali Ashraf, bahwa pendidikan adalah sebuah aktivitas tertentu yang memiliki maksud tertentu, yang diarahkan untuk mengembangkan individu sepenuhnya.&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Berbeda pula dengan apa yang diungkapkan oleh Ali Ashraf, bahwa dalam memaknai pendidikan bisa memerlukan suatu pengaruh, bimbingan ataupun panduan, namun bisa juga tidak, yang terpenting jelas adanya aktifitas tertentu dalam rangka mengembangkan individu secara penuh. Di sisi lain, Azyumardi Azra menyatakan bahwa pendidikan lebih daripada sekedar pengajaran, yang dapat dikatakan sebagai suatu proses transfer ilmu belaka, bukan transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya.&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jelas bahwa apa yang dinyatakan Azra, pengajaran lebih berorientasi pada pembentukan tukang-tukang atau para spesialis yang terkurung dalam ruang spesialisasinya yang sempit, karena itu perhatian dan minatnya pun lebih bersifat teknis. Adapun istilah manapun yang akan diambil terserah kita akan berpijak kemana, karena penulis tidak membatasi makna pendidikan secara sebenarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari penjelasan tentang pendidikan, maka bagaimana pula dengan pendidikan Islam? Bagaimana pula dengan ilmu pendidikan Islam? Apakah keduanya sama atau kah terdapat perbedaan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kata Islam dalam pendidikan Islam menunjukkan warna pendidikan tertentu, yaitu pendidikan yang berwarna Islam, pendidikan yang islami, yaitu pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam, namun apakah itu yang dinamakan pendidikan Islam? Menurut Azra, bahwa pendidikan yang dilekatkan dengan kata Islam telah didefinisakan secara berbeda-beda oleh berbagai kalangan, yang banyak dipengaruhi oleh pandangan dunia &lt;i&gt;(weltanschauung&lt;/i&gt;) masing-masing. Namun, pada dasarnya, semua pandang yang berbeda itu bertemu dalam suatu pemahaman bahwa pendidikan merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien.&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dalam Islam dapat kita jumpai beberapa istilah tentang pendidikan, yaitu &lt;i&gt;al Ta’lim, al Ta’dib, al Riyadhat, al Tarbiyyah&lt;/i&gt; dan lain sebagainya. &lt;i&gt;Al Ta’lim&lt;/i&gt; dapat diartikan dengan pengajaran.&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tetapi menurut Sayid Muhammad al Naquib al Attas, bahwa istilah &lt;i&gt;al Ta’dib&lt;/i&gt; adalah istilah yang paling tepat digunakan untuk menggambarkan pengertian pendidikan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sementara istilah &lt;i&gt;tarbiyah&lt;/i&gt; terlalu luas karena pendidikan dalam istilah ini mencakup juga pendidikan untuk hewan.&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Al Attas menjelaskan bahwa &lt;i&gt;Ta’dib&lt;/i&gt; berasal dari masdar &lt;i&gt;Addaba &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang diturunkan menjadi kata &lt;i&gt;Adabun&lt;/i&gt;, berarti pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hierarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajat tingkatan mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannyadengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi jasmaniah, intelektual, maupun rohaniah seseorang.&lt;a style="" href="#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Definisi ini berbau filsafat, sehingga intinya adalah pendidikan menurut Islam sebagai usaha agar orang mengenali dan mengakui tempat Tuhan dalam kehidupan ini. Sebaliknya, Abdurrahman al Nahlawi merumuskan definisi pendidikan dari kata al Tarbiyyah, yaitu pertama kata &lt;i&gt;raba-yarbu &lt;/i&gt;yang berarti bertambah, bertumbuh, seperti yang terdapat dalam Al Qur'an surat al Rum ayat 39; kedua, &lt;i&gt;rabiya-yarba&lt;/i&gt; yang berarti menjadi besar; ketiga, dari kata &lt;i&gt;rabba-yarubbu&lt;/i&gt; yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, memelihara. Menurut Imam al Baidlawi, di dalam tafsirnya arti asal &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;al rabb&lt;/i&gt; adalah &lt;i&gt;al Tarbiyah&lt;/i&gt;, yaitu menyampaikan sesuatu sedikit demi sedikit sehingga sempurna. Berdasarkan ketiga kata itu, Abdurrahman al Bani menyimpulkan bahwa pendidikan terdiri atas empat unsur, yaitu &lt;i&gt;pertama,&lt;/i&gt; menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang dewasa; &lt;i&gt;kedua, &lt;/i&gt;mengembangkan seluruh potensi; &lt;i&gt;ketiga,&lt;/i&gt; mengarahkan seluruh fitrah dan potensi menuju kesempurnaan; &lt;i&gt;keempat,&lt;/i&gt; dilaksanakan secara bertahap.&lt;a style="" href="#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dari sini, jelas bahwa pendidikan menurut Islam adalah pengembangan seluruh potensi anak didik secara bertahap menurut ajaran Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Adapun pendidikan Islam, menurut M. Yusuf al Qardhawi adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan ketrampilannya. Karenanya pendidikan Islam berupaya menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.&lt;a style="" href="#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sementara itu, Hasan Langgulung merumuskan pendidikan Islam sebagai suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan kemampuan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal dan memetik hasilnya kelak di akhirat.&lt;a style="" href="#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dengan demikian pendidikan Islam adalah suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah SWT Kepada Muhammad SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selain pendidikan Islam juga terdapat ilmu pendidikan Islam. Ilmu pendidikan Islam adalah ilmu pendidikan yang berdasarkan Islam. Isinya ilmu adalah teori, seperti ilmu bumi adalah teori tentang bumi, ilmu dagang adalah teori tentang dagang dan lain sebagainya. Sehingga ilmu pendidikan Islam adalah teori-teori tentang pendidikan berdasarkan Islam. Sebenarnya apakah isi ilmu itu hanya teori? Secara esensialnya berupa teori, tetapi secara lengkap isi suatu ilmu bukan saja teori, akan tetapi juga penjelasan-penjelasan tentang teori itu serta kadang-kadang terdapat data-data yang mendukung penjelasan itu.&lt;a style="" href="#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sehingga isi ilmu terdapat tiga hal, yaitu teori, penjelasan dan data. Jadi, jika kita menemukan buku ilmu pendidikan Islam, maka sudah sewajarnya berisi ketiga komponen tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemahaman tentang ilmu pendidikan Islam, menurut Ahmad Tafsir ilmu adalah sejenis pengetahuan manusia yang diperoleh dengan riset terhadap obyek-obyek yang empiris, benar tidaknya suatu teori ilmu ditentukan oleh logis tidaknya dan ada tidaknya bukti empiris. Bila teori itu logis dan ada bukti empiris, maka teori ilmu itu benar.&lt;a style="" href="#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Oleh karena itu, dalam ilmu pendidikan Islam harus terdapat teori-teori yang dapat diuji secara logis dan sekaligus empiris. Apabila tidak bisa, maka bukan suatu &lt;i&gt;ilmu&lt;/i&gt; pendidikan Islam, bahkan mungkin ilmu pendidikan Islam adalah mistis (khayalan). Tafsir dalam bukunya menjelaskan definisi ilmu pendidikan Islam sebatas untuk membedakan antara ilmu pendidikan Islam dan filsafat pendidikan Islam. Filsafat pendidikan Islam merupakan kumpulan teori pendidikan Islam yang hanya dapat dipertanggungjawabkan secara logis dan tidak akan dapat dibuktikan secara empiris.&lt;a style="" href="#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Masih menurut Tafsir bahwa untuk memahami tentang ilmu pendidikan Islam dapat dilakukan dengan cara merumuskan lebih dahulu definisi ilmu, definisi pendidikan dan definisi Islam, setelah itu disusun rumusan tentang ilmu pendidikan Islam.&lt;a style="" href="#_ftn16" name="_ftnref16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hakikat Tujuan Pendidikan Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bahwa setiap kegiatan apapun tentunya memiliki suatu tujuan, terdapat sesuatu yang ingin dicapai. Karena dengan tujuan itu dapat ditentukan kemana arah suatu kegiatan. Ibarat orang berjalan, maka ada sesuatu tempat yang akan dituju. Sehingga orang itu tidak mengalami kebingungungan dalam berjalan, andaikata kebingungan pun sudah jelas kemana ia akan sampai. Serupa dengan hal itu, tak ubahnya dalam dunia pendidikan, apakah pendidikan Islam maupun non Islam. Maka sudah dapat dipastikan akan memiliki suatu tujuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tujuan, menurut Zakiah Darajat adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai.&lt;a style="" href="#_ftn17" name="_ftnref17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sementara itu, Arifin mengemukakan bahwa tujuan itu bisa jadi menunjukkan kepada &lt;i&gt;futuritas&lt;/i&gt; (masa depan) yang terletak suatu jarak tertentu yang tidak dapat dicapai kecuali dengan usaha melalui proses tertentu.&lt;a style="" href="#_ftn18" name="_ftnref18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Meskipun banyak pendapat tentang pengertian tujuan, akan tetapi pada umumnya pengertian itu berpusat pada usaha atau perbuatan yang dilaksanakan untuk suatu maksud tertentu. Upaya untuk memformulasikan suatu bentuk tujuan, tidak terlepas dari pandangan masyarakat dan nilai yang dianut pelaku aktifitas itu. Sehingga tidak mengherankan apabila terdapat perbedaan tujuan yang ingin dicapai oleh masing-masing manusia, baik dalam suatu masyarakat, bangsa maupun negara, karena perbedaan kepentingan yang ingin dicapai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam, Ahmad Tafsir menyatakan bahwa suatu tujuan harus diambilkan dari pandangan hidup. Jika pandangan hidupnya (&lt;i&gt;philosophy of&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;life&lt;/i&gt;) adalah Islam, maka tujuan pendidikan menurutnya haruslah diambil dari ajaran Islam.&lt;a style="" href="#_ftn19" name="_ftnref19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Azra menyatakan bahwa pendidikan Islam merupakan salah satu aspek saja dari ajaran Islam secara keseluruhan. Karenanya tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertaqwa kepada-Nya dan dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan akhirat.&lt;a style="" href="#_ftn20" name="_ftnref20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dalam konteks sosial-masyarakat, bangsa dan negara –maka pribadi yang bertaqwa ini menjadi &lt;i&gt;rahmatan lil’alamin&lt;/i&gt;, baik dalam sekala kecil maupun besar. Tujuan hidup manusia dalam Islam inilah yang dapat disebut juga sebagai tujuan akhir pendidikan Islam (ultimate aims of islamic education).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selain tujuan umum itu, tentu terdapat pula tujuan khusus yang lebih spesifik menjelaskan apa yang ingin dicapai melalui pendidikan Islam. Tujuan khusus ini lebih &lt;i&gt;praxis&lt;/i&gt; sifatnya, sehingga konsep pendidikan Islam jadinya tidak sekedar idealisasi ajaran-ajaran Islam dalam bidang pendidikan. Dengan kerangka tujuan yang lebih &lt;i&gt;praxis&lt;/i&gt; itu dapat dirumuskan harapan-harapan yang ingin dicapai dalam tahap-tahap tertentu proses pendidikan, sekaligus dapat dinilai hasil-hasil yang telah dicapai.&lt;a style="" href="#_ftn21" name="_ftnref21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut Mohammad ’Athiyah al Abrasy, pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam dan Islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam. Mencapai suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya sebenarnya dari pendidikan Islam.&lt;a style="" href="#_ftn22" name="_ftnref22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Definisi ini menggambarkan bahwa manusia yang ideal harus dicapai melalui kegiatan pendidikan adalah manusia yang sempurna akhlaknya. Hal ini sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW, yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-SA"&gt;لاتمما مكرم الاخلاق&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sementara itu, Muhammad Quthb, berpendapat bahwa Islam melakukan pendidikan dengan pendekatan yang menyeluruh terhadap wujud manusia, sehingga tidak ada yang tertinggal dan terabaikan sedikit pun, baik segi jasmani maupun rohani, baik kehidupannya secara mental dan segala kegiatannya di bumi ini. Islam memandang manusia secara totalitas, mendekatinya atas dasar apa yang terdapat dalam dirinya, atas dasar fitrah yang diberikan Allah kepadanya, tidak ada sedikit pun yang diabaikan dan tidak memaksa apa pun selain apa yang dijadikannya sesuai dengan fitrahnya.&lt;a style="" href="#_ftn23" name="_ftnref23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Pendekatan ini menunjukkan bahwa dalam rangka mencapai pendidikan, Islam mengupayakan pembinaan seluruh potensi manusia secara serasi dan seimbang. Dengan terbinanya potensi manusia secara sempurna diharapkan ia dapat melaksanakan fungsi pengabdiannya sebagai khalifa di muka bumi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selain itu, Ali Ashraf menyatakan bahwa pendidikan bertujuan menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spiritual, intelek, rasional diri, perasaan dan kepekaan tubuh manusia. Karena itu pendidikan seharusnya menyediakan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspek spiritual, intelektual, imaginatif, fisikal, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan muslim adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah, pada tingkat individual, masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya.&lt;a style="" href="#_ftn24" name="_ftnref24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Pemahaman ini terkesan bahwa tujuan utama pendidika Islam tiada lain adalah perwujudan pengabdian secara optimal kepada Allah SWT. Untuk dapat melaksanakan pengabdian tersebut, harus dibina seluruh potensi yang dimilikinya, baik potensi spiritual, intelektual, perasaan, kepekaan dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan demikian, melihat berbagai tujuan yang telah dikemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam tiada lain adalah untuk mewujudkan insan yang berakhlakul karimah yang senantiasa mengabdikan dirinya kepada Allah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;D.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hakikat Manusia Sebagai Subjek Pendidikan (Pendidik dan Peserta Didik)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kajian tentang manusia sejak zaman dahulu sampai zaman sekarang belum juga berakhir dan tidak akan berakhir. Manusia merupakan makhluk yang sangat unik dengan segala kesempurnaannya. Manusia dapat dikaji dari berbagai sudut pandang, baik secara historis, antropologi, sosiologi dan lain sebagainya. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang spesial dari pada makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lain. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah, ayat 30:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 14pt; font-family: HQPB4;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 14pt; font-family: HQPB2;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;(normal text)&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Manusia dalam kajian kali ini lebih difokuskan kepada subjek pendidikan, bahwa dalam dunia pendidikan manusialah yang banyak berperan. Karena dilakukannya pendidikan itu tidak lain diperuntukan bagi manusia, agar tidak timbul kerusakan di bumi ini. Dalam pendidikan bahwa manusia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu sebagai pendidik dan peserta didik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Manusia sebagai pendidik, sebagaimana pemahaman Marimba tentang pendidikan, bahwa salah satu unsur pendidikan adalah adanya pembimbing (pendidik). Pendidik adalah orang yang memikul pertanggunganjawab untuk mendidik.&lt;a style="" href="#_ftn25" name="_ftnref25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kita sudah dapat membayangkan bahwa seorang pendidik adalah seorang manusia dewasa yang bertanggungjawab atas hak dan kewajiban pendidikan anak didik, tidak hanya membimbing dan menolong, akan tetapi lebih dari itu dengan segala pertanggunganjawab yang dipikulnya. Sementara itu, Tafsir mengatakan bahwa pendidik dalam Islam ialah siapa saja yang bertanggungjawab terhadap perkembangan anak didik. Dalam Islam, orang yang paling bertanggungjawab tersebut adalah orang tua (ayah dan ibu) anak didik, yang disebabkan oleh 2 faktor, yaitu pertama, karena kodrat, yaitu karena orang tua ditakdirkan menjadi orang tua anaknya, dan karena itu ia ditakdirkan pula bertanggungjawab mendidik anaknya. Kedua, karena kepentingan kedua orang tua, yaitu orang tua berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya, sukses anaknya adalah sukses orang tua juga.&lt;a style="" href="#_ftn26" name="_ftnref26" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Adapun guru yang kita pahami adalah seorang pendidik yang memberikan pelajaran kepada anak didik (murid), berupa mata pelajaran di sekolah.&lt;a style="" href="#_ftn27" name="_ftnref27" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Walaupun demikian, pendidik yang utama terhadap anak didik adalah kedua orang tua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendidik dalam pengertian lain, ada beberapa istilah, seperti ustadz, mu’alim, mu’adib, murabi dan lain sebagainya. Dari istilah-istilah itu pada dasarnya mempunyai makna yang sama, yakni sama-sama pendidik (guru). Pada hakikatnya pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan seluruh potensi anak didik, baik afektif, kognitif dan psikomotor.&lt;a style="" href="#_ftn28" name="_ftnref28" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Senada dengan ini Moh. Fadhil al Jamali menyebutkan bahwa pendidik adalah orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik sehingga terangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki oleh manusia.&lt;a style="" href="#_ftn29" name="_ftnref29" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sedangkan menurut al Aziz, bahwa pendidik adalah orang yang bertanggungjawab dalam menginternalisasikan nilai-nilai religious dan berupaya menciptakan individu yang memiliki pola pikir ilmiah dan pribadi yang sempurna.&lt;a style="" href="#_ftn30" name="_ftnref30" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Masing-masing definisi tersebut, mengisyaratkan bahwa peran, tugas dan tanggungjawab sebagai seorang pendidik tidaklah gampang, karena dalam diri anak didik harus terjadi perkembangan baik secara afektif, kognitif maupun psikomotor. Dalam setiap individu terdidik harus terdapat perubahan ke arah yang lebih baik. Jika dalam ajaran Islam anak didik harus mampu menginternalisasikan ajaran-ajaran dalam dirinya, sehingga mampu menjadi pribadi yang bertaqwa dan berakhlakul karimah yang akan bahagia baik di dunia dan di akhirat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sedangkan anak didik (peserta didik) adalah makhluk yang sedang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing.&lt;a style="" href="#_ftn31" name="_ftnref31" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju ke arah titik optimal kemampuan fitrahnya. Pengertian tersebut berbeda apabila anak didik (peserta didik) sudah bukan lagi anak-anak, maka usaha untuk menumbuhkembangkannya sesuai kebutuhan peserta didik, tentu saja hal ini tidak bisa diperlakukan sebagaimana perlakuan pendidik kepada peserta didik (anak didik) yang masih anak-anak. Maka dalam hal ini dibutuhkan pendidik yang benar-benar dewasa dalam sikap maupun kemampuannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam pandangan modern, anak didik tidak hanya dianggap sebagai obyek atau sasaran pendidikan, melainkan juga harus diperlakukan sebagai subyek pendidikan, dengan cara melibatkan mereka dalam memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar.&lt;a style="" href="#_ftn32" name="_ftnref32" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan demikian bahwa peserta didik adalah orang yang memerlukan pengetahuan, ilmu, bimbingan dan pengarahan. Islam berpandangan bahwa hakikat ilmu berasal dari Allah, sedangkan proses memperolehnya dilakukan melalui belajar kepada guru. Karena ilmu itu berasal dari Allah, maka membawa konsekuensi perlunya seorang peserta didik mendekatkan diri kepada Allah atau menghiasi diri dengan akhlak yang mulai yang disukai Allah, dan sedapat mungkin menjauhi perbuatan yang tidak disukai Allah.&lt;a style="" href="#_ftn33" name="_ftnref33" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Bertolak dari hal itu, sehingga muncul suatu aturan normatif tentang perlunya kesucian jiwa sebagai seorang yang menuntut ilmu, karena ia sedang mengharapkan ilmu yang merupakan anugerah Allah. Ini menunjukkan pentingnya akhlak dalam proses pendidikan, di samping pendidikan sendiri adalah upaya untuk membina manusia agar menjadi manusia yang berakhlakul karimah dan bermanfaat bagi seluruh alam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;E.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hakikat Kurikulum Pendidikan Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tujuan pendidikan di suatu bangsa atau negara ditentukan oleh falsafah dan pandangan hidup bangsa atau negara tersebut. Berbedanya falsafah dan pandangan hidup suatu bangsa atau negera menyebabkan berbeda pula tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan tersebut. Begitu pula perubahan politik pemerintahan suatu negara mempengaruhi pula bidang pendidikan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang sering membawa akibat terjadinya perubahan kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu, kurikulum bersifat dinamis guna lebih menyesuaikan dengan berbagai perkembangan yang terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kurikulum secara harfiah berasal dari kata curriculum yang berarti bahan pengajaran. Ada pula yang mengatakan berasal dari bahasa Perancis courier yang berarti berlari.&lt;a style="" href="#_ftn34" name="_ftnref34" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kata kurikulum selanjutnya menjadi suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan kepada sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar atau ijazah. Pengertian ini sejalan dengan Crow and Crow, bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis yang diperlukan sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.&lt;a style="" href="#_ftn35" name="_ftnref35" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[35]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Selain itu, ada pula yang berpendapat bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang disiapkan berdasarkan rancangan yang sistematis dan koordinatif dalam rangka mencapai suatu tujuan pendidikan yang ditetapkan.&lt;a style="" href="#_ftn36" name="_ftnref36" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[36]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dari beberapa definisi tersebut, bahwa kurikulum pada hakikatnya adalah rancangan mata pelajaran bagi suatu kegiatan jenjang pendidikan tertentu dan dengan menguasainya seseorang dapat dinyatakan lulus dan berhak memperoleh ijazah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sementara itu, kurikulum dalam pendidikan Islam, yaitu kata manhaj, yang bermakna jalan yang terang, atau jalan terang yang dilalui oleh manusia pada bidang kehidupannya.&lt;a style="" href="#_ftn37" name="_ftnref37" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[37]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jadi, kurikulum yang dimaksud adalah jalan terang yang dilalui oleh pendidik atau guru latih dengan orang yang dididik atau dilatihnya untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap mereka.&lt;a style="" href="#_ftn38" name="_ftnref38" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[38]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Keberadaan kurikulum dalam pendidikan Islam sebagai alat untuk mendidik generasi muda dengan baik dan menolong mereka untuk membuka dan mengembangkan kesediaan-kesediaan, bakat-bakat, kekuatan-kekuatan, dan ketrampilan mereka yang bermacam-macam dan menyiapkan mereka dengan baik untuk menjalankan hak-hak dan kewajiban, memikul tanggungjawab terhadap diri, keluarga, masyarakat, bangsanya dan turut serta secara aktif untuk kemajuan masyarakat dan bangsanya.&lt;a style="" href="#_ftn39" name="_ftnref39" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[39]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dengan demikian, kurikulum hanya sebatas sarana untuk mendidik generasi muda dengan segala potensi yang dimilikinya sehingga mampu memikul tanggungjawab bagi dirinya, keluarga, masyarakat maupun bangsanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ahmad Tafsir, merinci kurikulum dalam beberapa komponen, yaitu tujuan, isi, metode atau proses belajar mengajar dan evaluasi. Setiap komponen dalam kurikulum sebenarnya saling berkaitan bahkan masing-masing merupakan bagian integral dari kulum tersebut. Komponen &lt;i&gt;tujuan&lt;/i&gt; mengarahkan atau menunjukkan suatu yang hendak dituju dalam proses belajar mengajar. Dalam operasinya tujuan ini dibagi menjadi bagian-bagian yang kecil. Bagian-bagian itu dicapai hari demi hari dalam proses belajar mengajar, yang dirumuskan dalam rencana pengajaran (lesson plan), disebut juga persiapan mengajar. Kemudian komponen isi menunjukkan materi proses belajar mengajar tersebut. Materi (isi) ini harus relevan dengan tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Relevansi antara tujuan yang dingin dicapai dan isi proses belajar mengajar tidak gampang dalam operasionalnya. Karena untuk merelevansikan diperlukan pakar yang benar-benar ahli dalam merencanakan isi proses tersebut. Komponen berikutnya adalah &lt;i&gt;proses belajar mengajar&lt;/i&gt;, mempertimbangkan kegiatan anak dan guru dalam proses belajar mengajar, yakni dengan tidak membiarkan anak belajar sendirian, karena hasil belajarnya kurang maksimal. Karena itu para ahli menyebutnya dengan proses belajar mengajar sebab memang terdapat gabungan antara anak didik belajar dan guru mengajar yang tidak dapat dipisahkan. Komponen berikutnya &lt;i&gt;evaluasi&lt;/i&gt; yakni kegiatan kurikuler berupa penilaian untuk mengetahui berapa persen suatu tujuan dapat dicapai. Maka ada ilmu khusus yang mempelajari tentang ini, yaitu teknik evaluasi. Dari hasil evaluasi ini biasanya dinyatakan dengan angka-angka yang dicapai siswa.&lt;a style="" href="#_ftn40" name="_ftnref40" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[40]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari uraian tersebut di atas, jelas bahwa kurikulum mempunyai peran penting dalam upaya untuk mencapai tujuan pendidikan. Apalagi ini tujuan pendidikan Islam yang begitu kompleks, seorang anak didik tidak hanya memiliki kemampuan secara afektif, kognitif maupun psikomotor, tetapi dalam dirinya harus tertanam sikap dan pribadi yang berakhlakul karimah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;F.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kesimpulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendidikan merupakan salah satu bentuk upaya untuk melakukan perubahan, maka penting rasanya untuk memahami ontologi pendidikannya, apalagi ini pendidikan Islam. Islam sebagai suatu agama dan ajaran mempunyai peran penting dalam menentukan arah kebijakan pendidikan dengan segala komponen yang melingkupinya, baik itu makna pendidikan itu sendiri, obyek manusianya, tujuan maupun kurikulumnya. Sehingga dari ini dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan yang diinginkan dalam suatu proses pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang berlandaskan atas dasar-dasar ajaran Islam, yakni Al Qur'an dan Hadits sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat Islam. Dalam Al Qur'an dan Hadits telah jelas bahwa keberadaan manusia dimuka bumi adalah sebagai khalifah yang mengemban peran penting dalam mengelola bumi dan segala isinya demi kemaslahatan umat. Dan dengan pendidikan diharapkan manusia tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan kerusakan di muka bumi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Salah satu sarana yang dibutuhkan dalam melaksanakan pendidikan itu adalah dengan keberadaan kurikulum yang jelas. Sehingga, materi apa yang akan disampaikan dan tujuan apa yang ingin dicapai dalam proses belajar mengajar tersebut dapat diarahkan dan hasil yang diinginkan dapat diukur (dievaluasi). Kemudian nantinya dapat dilakukan perbaikan yang akan mengarah kepada kesempurnaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Al Naquib al Attas, Syed Muhammad, &lt;i&gt;Konsep Pendidikan Dalam Islam, &lt;/i&gt;terj. Haidar Bagir, Bandung: Mizan, 1984.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt;Al Qardhawi, Yusuf, &lt;i&gt;Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan al Banna,&lt;/i&gt; terj. Bustami A, Gani et.al, Jakarta: Bulan Bintang, 1980.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt;Al Toumy al Syaibany, Omar Muhammad &lt;i&gt;,Falsafatut Tarbiyah Islamiyah,&lt;/i&gt; terj. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, tt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Arifin, HM., &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan Islam, &lt;/i&gt;Jakarta: Bumi Aksara, 1991.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Ashraf, Ali, &lt;i&gt;Horison Baru Pendidikan Islam,&lt;/i&gt; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Athiyah al Abrasyi, Mohammad, &lt;i&gt;Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam,&lt;/i&gt; terj. Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry, Jakarta: Bulan Bintang, 1974.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Azra, Azyumardi, &lt;i&gt;Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, &lt;/i&gt;Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Crow and Crow, &lt;i&gt;Pengantar Ilmu Pendidikan, &lt;/i&gt;Yogyakarta: Rake Sarasin, 1990.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;D. Marimba, Ahmad, &lt;i&gt;Pengantar Filsafat Pendidikan Islam&lt;/i&gt;, Bandung: al Ma’arif, 1989.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Darajat, Zakaiah, &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan Islam,&lt;/i&gt; Jakarta: Bumi Aksara, 1992.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Langgulung, Hasan, &lt;i&gt;Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Bandung: al Ma’arif, 1980.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Nata, Abudin, &lt;i&gt;Filsafat Pendidikan Islam&lt;/i&gt;, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Quthb, Muhammad, &lt;i&gt;Sistem Pendidikan Islam,&lt;/i&gt; terj. Salman Harun, Bandung: al Ma’arif, 1984.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Ramayulis, &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan Islam, &lt;/i&gt;Jakarta: Kalam Mulia, 2002.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;S. Nasution, &lt;i&gt;Pengembangan Kurikulum, &lt;/i&gt;Bandung: Citra Adirya Bakti, 1991.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Salih Abdullah, Abdurrahman, &lt;i&gt;Educational Theory a Quranic Outlook, &lt;/i&gt;Makkah al Mukarramah: Umm al Qura University, tt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Tafsir, Ahmad, &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam,&lt;/i&gt; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;____________, &lt;i&gt;Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capr, &lt;/i&gt;Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="SV"&gt;Ahmad Tafsir, &lt;i&gt;Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra &lt;/i&gt;(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), 28.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Ahmad D. Marimba, &lt;i&gt;Pengantar Filsafat Pendidikan Islam&lt;/i&gt;, (Bandung: al Ma’arif, 1989}, 19.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Omar Muhammad al Toumy al Syaibany, &lt;i&gt;Falsafatut Tarbiyah Islamiyah,&lt;/i&gt; terj. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, tt), 57.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="SV"&gt;Ali Ashraf, &lt;i&gt;Horison Baru Pendidikan Islam &lt;/i&gt;(Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), 1.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="SV"&gt;Azyumardi Azra, &lt;i&gt;Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru &lt;/i&gt;(Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), 3.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="SV"&gt;Ibid, 3.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="SV"&gt;Ramayulis, &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan Islam &lt;/i&gt;(Jakarta: Kalam Mulia, 2002), 2.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Syed Muhammad al Naquib al Attas,&lt;i&gt; Konsep Pendidikan Dalam Islam, &lt;/i&gt;terj. Haidar Bagir, (Bandung: Mizan, 1984), 52.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="SV"&gt;Ibid, 63.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="SV"&gt;Ahmad Tafsir, &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan......&lt;/i&gt;29.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt; Yusuf al Qardhawi, &lt;i&gt;Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan al Banna,&lt;/i&gt; terj. Bustami A, Gani et.al, Jakarta: Bulan Bintang, 1980), 157.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="ES"&gt;Hasan Langgulung, &lt;i&gt;Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam &lt;/i&gt;(Bandung: al Ma’arif, 1980), 6.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn13"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="ES"&gt;Ahmad Tafsir, &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan......&lt;/i&gt;12&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn14"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="ES"&gt;Ibid, 14.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn15"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="ES"&gt;Ibid, 15.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn16"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref16" name="_ftn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="ES"&gt;Ibid, 23.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn17"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref17" name="_ftn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt; Zakaiah Darajat, &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan Islam &lt;/i&gt;(Jakarta: Bumi Aksara, 1992), 29.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn18"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref18" name="_ftn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; HM. Arifin, &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan Islam &lt;/i&gt;(Jakarta: Bumi Aksara, 1991), 223.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn19"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref19" name="_ftn19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Ahmad Tafsir, &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam,&lt;/i&gt; (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), 46.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn20"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref20" name="_ftn20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Lihat misalnya surat Al Dzariyat ayat 56: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepadaku” atau surat Al Imran ayat 102: “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn21"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref21" name="_ftn21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Azyumardi Azra, &lt;i&gt;Pendidikan Islam…….&lt;/i&gt;8&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn22"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref22" name="_ftn22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Mohammad Athiyah al Abrasyi, &lt;i&gt;Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam,&lt;/i&gt; terj. Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), 15.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn23"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref23" name="_ftn23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Muhammad Quthb, &lt;i&gt;Sistem Pendidikan Islam,&lt;/i&gt; terj. Salman Harun, (Bandung: al Ma’arif, 1984), 27.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn24"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref24" name="_ftn24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ali Ashraf, &lt;i&gt;Horison Baru Pendidikan……..&lt;/i&gt;2&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn25"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref25" name="_ftn25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Ahmad D. Marimba, &lt;i&gt;Pengantar Filsafat……..&lt;/i&gt;37.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn26"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref26" name="_ftn26" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ahmad Tafsir, &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan………………….&lt;/i&gt;74.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn27"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref27" name="_ftn27" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, 75.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn28"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref28" name="_ftn28" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ramayulis, &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan ………..&lt;/i&gt;85.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn29"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref29" name="_ftn29" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, 85.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn30"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref30" name="_ftn30" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, 85.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn31"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref31" name="_ftn31" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Abudin Nata, &lt;i&gt;Filsafat Pendidikan Islam&lt;/i&gt; (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), 79.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn32"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref32" name="_ftn32" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, 79.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn33"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref33" name="_ftn33" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, 80.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn34"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref34" name="_ftn34" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; S. Nasution, &lt;i&gt;Pengembangan Kurikulum &lt;/i&gt;(Bandung: Citra Adirya Bakti, 1991), 9.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn35"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref35" name="_ftn35" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[35]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Crow and Crow, &lt;i&gt;Pengantar Ilmu Pendidikan &lt;/i&gt;(Yogyakarta: Rake Sarasin, 1990), 75.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn36"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref36" name="_ftn36" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[36]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Abdurrahman Salih Abdullah, &lt;i&gt;Educational Theory a Quranic Outlook &lt;/i&gt;(Makkah al Mukarramah: Umm al Qura University, tt), 123.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn37"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref37" name="_ftn37" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[37]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt; Omar Mohammad al Toumy al Syaibany, &lt;i&gt;Falsafatut Tarbiyah……….&lt;/i&gt;478.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn38"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref38" name="_ftn38" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[38]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, 478.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn39"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref39" name="_ftn39" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[39]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, 476&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn40"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref40" name="_ftn40" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[40]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ahamd Tafsir, &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan……54-55.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1525122219711433196-5009496035570596931?l=kangjumari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangjumari.blogspot.com/feeds/5009496035570596931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1525122219711433196&amp;postID=5009496035570596931&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/5009496035570596931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/5009496035570596931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangjumari.blogspot.com/2007/12/ontologi-pendidikan-islam.html' title='ONTOLOGI PENDIDIKAN ISLAM'/><author><name>kang jumari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03274637909033545700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_h2jQcs50AGU/R3Z7VoAS6EI/AAAAAAAAAAo/mhkKeJSK4ns/S220/Untitled-1+copy.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1525122219711433196.post-686394343993805483</id><published>2007-12-26T10:35:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T10:37:09.384-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;SUMBANGAN PSIKOLOGI DALAM PENDIDIKAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, tidak akan mungkin dapat dilepaskan dari psikologi. Karena dalam pendidikan berhubungan erat dengan manusia. Jika kita membicarakan tentang manusia, maka akan banyak ilmu pengetahuan yang muncul berkaitan dengan eksistensi manusia. Kita mengambil contoh sosiologi yang mempelajari kehidupan manusia dalam berbagai satuan kelompok kecil seperti urutan dalam satuan keluarga, unit-unit pekerjaan, organisasi, kelompok profesi, kelompok-kelompok kemasyarakatan dan lain-lain. Antropologi mempelajari kehidupan manusia dalam kelompok-kelompok yang lebih besar dan terikat oleh suatu ikatan yang lebih bersifat permanen, turun-temurun seperti ras, suku bangsa, kebudayaan dan lain-laian. Sejarah mempelajari kehidupan manusia dalam urutan waktu dan peristiwa yang dialaminya. Fisiologi yang lebih menekankan pada aspek fisik atau jasmani manusia, seperti struktur tubuh, bagian-bagian dari tubuh serta fungsi dan cara kerja dari masing-masing aspek tersebut. Terlepas dari semua keinginan manusia yang selalu ingin tahu dunia luar diluar dirinya. Manusia juga memiliki kecenderungan untuk mempelajari dirinya sendiri, sehingga muncul suatu ilmu yang mempelajari diri sendiri manusia, atau dengan kata lain manusia ingin mengetahui keadaan manusia sendiri, manusia menjadi objek studi dari manusia. Hal ini yang memunculkan ilmu pengetahuan baru yang disebut psikologi, yang lebih menekankan kepada aspek pemahaman dan pengkajian sesuatu dari sudut karekateristik dan perilaku manusia, khususnya manusia sebagai individu.&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Individu yang dimaksud adalah individu manusia, namun bukan manusia pada umumnya, melainkan manusia yang memiliki keunikan dan karakteristik tertentu yang bersifat spesifik. Hal ini yang membedakan psikologi dengan cabang-cabang ilmu lain yang sama-sama mengkaji tentang manusia. Adapun pendidikan, merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang lebih menekankan kepada mendidik, membimbing dan mengarahkan manusia menuju arah yang lebih baik, secara jasmani maupun rohani. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sehingga antara pendidikan dan psikologi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Karena keduanya saling mendukung dan saling melengkapi. Untuk mewujudkan manusia yang bertingkah laku atau berperilaku lebih baik, maka manusia itu harus dididik dalam suatu proses pendidikan. Pendidikan sendiri tidak akan berjalan secara optimal, efektif dan efisien apabila mengesampingkan faktor psikologis manusia. Dalam proses pendidikan manusia memiliki karakteristik dan keunikan yang berbeda satu sama lain. Hal ini membutuhkan pengelolaan yang berbeda. Bagitu pun apabila ditinjau dari sudut perkembangan, pertumbuhan, jenis kelamin manusia tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan yang dilakukan tidak akan sama. Oleh karena itu, penting bagi pendidik maupun calon pendidik untuk menguasai ilmu pengetahuan psikologi, agar dalam proses pendidikannya mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi pada peserta didiknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Adapun dalam kajian ini berupaya untuk mengeksplorasi sumbangan atau kontribusi psikologi dalam pendidikan. Apa sumbangan atau kontribusi yang diberikan psikologi dalam pendidikan? Apakah tujuan pendidikan akan tercapai apabila mengesampingkan aspek psikologis ini? Prolematika tersebut muncul karena dalam pendidikan tidak bisa dilepaskan dari dukungan cabang ilmu psikologi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Arti Psikologi dan Psikologi Pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;manifestasi dari jiwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya&lt;/i&gt;.&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Interaksi individu dengan lingkungannya yang cukup kompleks akan memunculkan baragam jenis pengalaman yang berbeda-beda, yang pada gilirannya akan mengubah intensitas nilai terhadap dirinya dan terhadap orang lain. Kenyataan ini semakin terasa dalam struktur masyarakat dewasa ini. Misalnya, interaksi orang tua dan anak di lingkungan keluarga, guru dan murid di sekolah, manajer dan karyawan di perusahaan, dokter dan pasien di rumah sakit dan lain sebagainya. Kenyataan ini, sudah tentu akan melahirkan problematika baru dalam psikologi dan menghendaki pengkajian secara khusus. Sehingga dari sini akan muncul beragam istilah psikologi, yaitu psikologi anak, psikologi pendidikan, psikologi keluarga, psikologi perusahaan dan lain sebagainya.&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="FI"&gt;Namun demikian, kajian kita saat ini lebih terfokus kepada psikologi pendidikan. Jika mengetahui makna psikologi sebagaimana tersebut di atas, maka psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungan pendidikan atau boleh dikatakan sebagai proses interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam suatu situasi pendidikan.&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="FI"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pemaknaan psikologi pendidikan tersebut, pada kenyataanya mengalami perkembangan yang lebih mengerucut kepada psikologi yang berhubungan dengan proses belajar, sebagaimana diungkap oleh beberapa ahli. &lt;/span&gt;Crow and Crow, berpendapat bahwa:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Educational psychologi describes and explains the learning experiences of an individual from birth through old age. Its subject matter and concerned with the conditions that affect learning.&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;"Psikologi pendidikan menjelaskan permasalahan-permasalahan yang dialami individu dari sejak lahir sampai berusia lanjut, terutama yang menyangkut kondisi-kondisi yang mempengaruhi belajar"&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Sementara itu, Witherington, berpendapat bahwa:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;i&gt;A systematic study of the process and factors involved in the education of human being is called educational psychology&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;"Psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang terdapat dalam pendidikan manusia"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Adapun dari kedua pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa psikologi pendidikan merupakan studi yang secara sistematis berkaitan dengan proses pendidikan yang dialami oleh individu manusia, khususnya belajar mulai dari sejak lahir sampai berusia lanjut. Hal ini senada diungkapkan oleh sebuah hadits Nabi yang berarti "carilah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat". Walaupun seandainya ditinjau keberadaan hadits tersebut kurang pas apabila dikaitkan dengan psikologi, karena bersifat anjuran. Namun demikian, isi proses dalam anjuran tersebut tersimpan banyak hal terkait dengan psikologi pendidikan sebagaimana diungkap para tokoh tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ruang Lingkup Psikologi dalam Pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Pada pembahasan sebagaimana tersebut di atas, bahwa mengkaji manusia dalam sudut padang psikologi cukup beragam, yang akan memuncul ilmu psikologi baru seperti psikologi keluarga, psikologi pendidikan, psikologi sosial, psikologi pria dan wanita serta lain sebagainya. Psikologi pendidikan sebagai sebuah disiplin ilmu psikologi yang khusus mempelajari, meneliti dan membahas seluruh tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses pendidikan itu, meliputi tingkah laku belajar (oleh peserta didik), tingkah laku mengajar (oleh pendidik) dan tingkah laku belajar-mengajar (oleh pendidik dan peserta didik yang saling berinteraksi).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Inti permasalahan psikologis dalam psikologi pendidikan tanpa mengabaikan persoalan psikologi pendidik, terletak pada peserta didik. Pendidikan pada hakikatnya adalah pelayanan yang khusus diperuntukkan bagi peserta didik. Karena itu, ruang lingkup pokok bahasan psikologi pendidikan, selain teori-teori psikologi pendidikan sebagai suatu ilmu, juga berbagai aspek psikologis para peserta didik khususnya ketika mereka terlibat dalam proses belajar dan proses belajar mengajar. Oleh karena itu secara garis besar, banyak membatasi pokok bahasan psikologi pendidikan menjadi tiga macam:&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mengenai belajar, yang meliputi teori-teori,      prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar peserta didik dan      sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mengenai proses belajar, yakni tahapan      perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar peserta didik      dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Mengenai situasi      belajar, yakni suasana dan keadaan lingkungan baik bersifat fisik maupun      non fisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta didik.&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Sementara itu, Samuel Smith sebagaimana dikutip oleh Suryabarata, menetapkan 16 topik yang dibahas dalam psikologi pendidikan, yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Pengetahuan      tentang psikologi pendidikan (&lt;i&gt;the science of educational psychology).&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Hereditas atau karakteristik      pembawaan sejak lahir (&lt;i&gt;heredity).&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Lingkungan yang      bersifat fisik (&lt;i&gt;physical structure&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Perkembangan siswa      (&lt;i&gt;growth&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Proses-proses      tingkah laku (&lt;i&gt;behavior process&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Hakikat dan ruang      lingkup belajar (&lt;i&gt;nature and scope of learning&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Faktor-faktor yang      mempengaruhi belajar (&lt;i&gt;factors that condition learning&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Hukum-hukum dan      teori-teori belajar (&lt;i&gt;laws and theories of learning&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Pengukuran, yakni      prinsip-prinsip dasar dan batasan-batasan pengukuran/evaluasi (&lt;i&gt;measurement:      basic principles and definitions&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Transfer belajar,      meliputi mata pelajaran (&lt;i&gt;transfer of learning subject matters&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Sudut-sudut      pandang praktis mengenai pengukuran (&lt;i&gt;practical aspects of measurement&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Ilmu statistik      dasar (&lt;i&gt;element of statistics&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Kesehatan rohani &lt;i&gt;(mental      hygiene&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Pendidikan      membentuk watak (&lt;i&gt;character education&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Pengetahuan      psikologi tentang mata pelajaran sekolah menengah (&lt;i&gt;psychology of      secondary school subjects&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Pengetahuan      psikologi tentang mata pelajaran sekolah dasar (&lt;i&gt;pscychology of      elementary school subjects&lt;/i&gt;).&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Namun dari keenam belas bahasan tersebut di atas, konon telah dikupas oleh hampir semua ahli yang diselidiki Smith, walaupun porsi (jumlah bagian) yang diberikan dalam pengupasan tersebut tidak sama.&lt;a style="" href="#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Dari ruang lingkup psikologi pendidikan tersebut menunjukkan bahwa sangat jelas masalah belajar merupakan titik sentral dan vital dalam suatu proses pendidikan. Sehingga berhasil tidaknya suatu tujuan pendidikan, tergantung kepada proses belajar mengajar yang terjadi baik di dalam kelas maupun di luar kelas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sumbangan Psikologi dalam Pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Dahulu, sebelum psikologi memasuki lembaga yang menghasilkan tenaga berpendidikan talah berkembang beberapa anggapan bahwa pengetahuan dan penguasaan akan bahan pelajaran secara otomatis akan memberikan kemampuan atau kompetensi untuk mengajarkanya. Anggapan lainnya, jika kemampuan dan ketrampilan mengajar terpisah dari pengetahuan tentang bahan pelajaran yang ada, maka kemampuan dan ketrampilan tersebut merupakan pembawaannya. Dengan kata lain, anggapan yang terakhir, melahirkan pernyataan "guru-guru/ pendidik dilahirkan sebagai guru/pendidik, bukannya dipersiapkan"(&lt;i&gt;teachers are born, not made&lt;/i&gt;).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Sudah tentu, kedua anggapan tersebut tidak menunjukkan keahliannya, baik seluruhnya maupun sebagian. Terhadap anggapan pertama, keahlian atau validitasnya dapat digugurkan berdasarkan atas pengalaman sehari-hari. Suatu gejala yang sudah lazim terdapat pada pengalaman tiap orang menunjukkan bahwa sarjana baik laki-laki maupun wanita, betapapun kompetennya, namun belumlah tentu dapat menjamin dia mampu menyampaikan pengetahuannya kepada para peserta didik dengan baik. Sebaliknya, cukup banyak sarjana yang kurang kompeten, ternyata lebih berhasil sebagai pendidik/guru.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Sedangkan terhadap anggapan yang kedua, tidak sepenuhnya mengandung kesahihan. Memang, tak seorang pun menyangkal bahwa tiap-tiap orang ada ketidaksamaan dalam hal bakat pembawaan mengajar. Paling tidak ada dua hal – yaitu dalam hal kemampuan untuk menemukannya secara intuitif atau belajar dari orang lain tentang prinsip-prinsip belajar-mengajar yang sahih dan dalam hal kemampuannya untuk melaksanakan prinsip-prinsip tersebut dengan berhasil. Perkiraan yang tepat adalah sebagian mereka yang berintelegensi normal akan dapat memanfaatkan dan mengambil keuntungan sebagian pengajaran yang sistematis yang dibenarkan secara logis dan empiris tentang sifat dan keudahan dalam proses belajar. Bagi mereka yang kurang berbakat, setidak-tidaknya akan dapat menjadi guru yang baik, sedangkan bagi mereka yang berbakat lebih baik, justru akan dapat mengembangkan dengan lebih baik lagi tiap kapasitas yang dimilikinya. Bagaimanapun, yang ideal ialah dilakukannya proses seleksi yang sedemikian rupa dalam penerimaan calon pendidik/guru agar psikologi pendidikan benar-benar dapat memainkan peran dan fungsinya dengan jelas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Untuk memperkuat uraian tersebut, baiklah dikemukakan contoh sebagai berikut, jika orang hendak mengajarkan bidang studi matematika atau bidang studi pendidikan agama, misalnya. Paling tidak ia perlu memahami dan menguasai empat hal, yaitu: pertama, tujuan yang ingin dicapai; kedua, materi yang akan disampaikan; ketiga, sifat dan hakikat anak didik; dan keempat, metode mengajar dan alat-alat peraganya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Terhadap masalah yang kedua, yaitu yang menyangkut masalah atau materi yang akan disajikan, biasanya telah dipelajari calon pendidik/guru sebelum ia disiapkan secara teknis untuk menjadi guru/pendidik. Terhadap masalah pertama dan keempat, yaitu tujuan yang ingin dicapai dan metode mengajar dan alat-alat peraga yang diperlukan, kesemuannya dapat dimasukkan ke dalam seni dan ketrampilan mengajar serta prosedur pengembangan dalam proses belajar mengajar. Sedangkan terhadap masalah yang ketiga, yaitu sifat hakikat peserta didik, ini menyangkut pengetahuan dan pemahaman kejiwaan anak didik, ini menyangkut pengetahuan dan pemahaman kejiwaan anak didik dalam proses belajarnya. Dan terhadap masalah yang terakhir inilah nampak dengan jelas betapa pentingnya psikologi pendidikan bagi guru/pendidik, maupun calon pendidik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Jadi, berdasarkan atas uraian di atas, dapatlah ditegaskan bahwa psikologi pendidikan sebagai suatu ilmu pengetahuan merupakan suatu keharusan di lembaga-lembaga pendidikan guru/pendidik. Dan penegasan ini pun mendasarkan atas dua dimensi pemikiran. Pertama, sifat dan jenis belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya yang kemudian dapat diidentifikasikan secara meyakinkan. Kedua, pengetahuan yang serupa itu dapat disistematisasikan dan disampaikan secara efektif kepada para calon pendidik/guru. Dari kedua dimensi pemikiran inilah para calon pendidik/guru dapat mengambil manfaat dan keuntungannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Walaupun demikian, perlu disadari bahwa psikologi pendidikan bukan merupakan satu-satunya syarat untuk mempersiapkan dan menjadikan seseorang bisa menjadi pendidik/guru yang baik. Sebab, masih cukup banyak persyaratan lainnya, antara lain, bakat, minat, komitmen, motivasi dan latihan serta penguasaan metodologi pengajaran.&lt;a style="" href="#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Penutup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, sekaligus juga proses interaksi antara peserta didik dan pendidik dalam suatu lingkungan tertentu. Senantiasa tidak bisa dipisahkan dari psikologi. Karena memang obyek dari pendidikan itu sendiri adalah individu manusia yang memiliki perilaku, karakteristik dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Di sinilah peran penting psikologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, wajib bagi suatu lembaga yang mencetak kader-kader pendidik/guru untuk memberikan ilmu pengetahuan psikologi kepada mereka calon pendidi tersebut. Adapun untuk para pendidik/guru sudah selayaknya menguasai ilmu psikologi ini, agar dalam proses belajar mengajar bisa meminimalisir kegagalan dalam penyampaian materi pelajarannya. Walaupun demikian, perlu disadari bahwa psikologi pendidikan bukan merupakan satu-satunya syarat untuk mempersiapkan dan menjadikan seseorang bisa menjadi pendidik/guru yang baik. Sebab, masih cukup banyak persyaratan lainnya, antara lain, bakat, minat, komitmen, motivasi dan latihan serta penguasaan metodologi pengajaran&lt;b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Daftar Pustaka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: left; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;akhmadsudrajat.files.wordpress.com/ 2007/05/konsep-psikologi-pendidikan.doc&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: left; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dalyono, M., &lt;i&gt;Psikologi Pendidikan,&lt;/i&gt; Jakarta: Rineka Cipta, 1997&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: left; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Lester D. Crow &amp;amp; Alice Crow,&lt;i&gt; Educational Psychology&lt;/i&gt;, New York: American Book Company, 1958&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: left; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Rachman Abror , Abd., &lt;i&gt;Psikologi Pendidikan, &lt;/i&gt;Yogya: Tiara Wacana, 1993&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: left; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Soeryabrata, Soemadi, &lt;i&gt;Psikologi Pendidikan: Suatu Penyajian Secara Operasional,&lt;/i&gt; Yogyakarta: Rake Press, 1980&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: left; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sukmadinata, Nana Syaodih, &lt;i style=""&gt;Landasan Psikologi Proses Pendidikan&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: left; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Syah, Muhibbin, &lt;i&gt;Psikologi Pendidikan, &lt;/i&gt;Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; text-align: left; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Witherington, H.C., &lt;i&gt;Educational Psychology: Pengantar Psikologi Pendidikan&lt;/i&gt; terj. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;M. Buchori Bandung: Jemmars, 1978&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="right" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Nana Syaodih Sukmadinata, &lt;i style=""&gt;Landasan Psikologi Proses Pendidikan&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), 15-16.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;akhmadsudrajat.files.wordpress.com/ 2007/05/konsep-psikologi-pendidikan.doc&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Abd. Rachaman Abror, &lt;i&gt;Psikologi Pendidikan &lt;/i&gt;(Yogya: Tiara Wacana, 1993), 2.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Nana Syaodih Sukmadinata, &lt;i&gt;Landasan Psikologi…………&lt;/i&gt;28.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Lester D. Crow &amp;amp; Alice Crow,&lt;i&gt; Educational Psychology&lt;/i&gt; (New York: American Book Company, 1958), 7.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Witherington, H.C., &lt;i&gt;Educational Psychology: Pengantar Psikologi Pendidikan&lt;/i&gt; terj. M. Buchori (Bandung: Jemmars, 1978), 35.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;M. Dalyono, &lt;i&gt;Psikologi Pendidikan &lt;/i&gt;(Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 12-13.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Soemadi soryabrata, &lt;i&gt;Psikologi Pendidikan: Suatu Penyajian Secara Operasional&lt;/i&gt; (Yogyakarta: Rake Press, 1980), 2-4.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Muhibbin Syah, &lt;i&gt;Psikologi Pendidikan &lt;/i&gt;(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), 25.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Abd. Rahman Abror, &lt;i&gt;Psikologi Pendidikan&lt;/i&gt;…………18-19.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1525122219711433196-686394343993805483?l=kangjumari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangjumari.blogspot.com/feeds/686394343993805483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1525122219711433196&amp;postID=686394343993805483&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/686394343993805483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/686394343993805483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangjumari.blogspot.com/2007/12/sumbangan-psikologi-dalam-pendidikan.html' title=''/><author><name>kang jumari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03274637909033545700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_h2jQcs50AGU/R3Z7VoAS6EI/AAAAAAAAAAo/mhkKeJSK4ns/S220/Untitled-1+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1525122219711433196.post-1841596012485489895</id><published>2007-12-26T10:20:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T10:27:27.430-08:00</updated><title type='text'>TEORI BELAJAR DONALD A. NORMAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;TEORI BELAJAR &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;DONALD A. NORMAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada pembahasan sebelumnya kita telah mengenal beberapa teori belajar, yaitu teori fungsionalistik dan teori asosianistik. Dalam bukunya Olson dan Hergenhahn, &lt;i&gt;An Introduction to Theories of Learning &lt;/i&gt;terbagi dalam empat kelompok yaitu teori fungsionalistik, teori asosianistik, teori kognitif dan teori neurophysiologi. Adapun dalam pembahasan ini tergolong dalam bahasan teori kognitif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika dalam pembahasan sebelumnya telah dikemukakan beberapa tokoh yang tergolong teori kognitif, seperti tokoh teori Gestalt, Jean Peaget, Tolman, Albert Bandura dan kali ini yang terakhir dari teori kognitif bukunya Olson dan Hergenhahn, yaitu Donald A. Norman. Siapakah dia? Bagaimana pemikirannya? Dan kenapa dia digolongkan dalam kelompok teori kognitif, apakah pemikirannya termasuk yang baru atau sudah ada sebelumnya? Bagaimana pula Islam menyikapi terhadap pemikiran Norman ini? akan dibahas dalam tulisan berikut, meskipun dalam pembahasannya masih kurang begitu detail.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam bukunya Olson dan Hergenhahn ini bahwa Norman dimasukkan sebagai wakil dari teori belajar dengan pendekatan proses informasi.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Karena apa yang dilakukan Norman adalah Pendekatan proses informasi tidak ubahnya teori behavioristik (teori operant conditioning), teori kognitif juga beranggapan bahwa reinforcement itu penting dalam belajar, hanya saja alasannya berbeda. Menurut teori beharvioristik, reinforcement itu memperkuat respon atau tingkah laku, sedangkan teori kognitif memandang reinforcement sebagai sumber umpan balik. Umpan balik ini memberitahukan tentang apa yang mungkin terjadi kalau tingkah laku diulang-ulang. Menurut teori ini pula, reinforcement itu berfungsi untuk mengurangi ketidak pastian dan karenanya mengarah ke pemahaman dan penguasaan.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurut Olson dan Hergenhahn bahwa kemunculan psikologi proses informasi dilatar belakangi oleh beberapa pemikiran:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Psikologi      S-R yang berpandangan bahwa manusia berinteraksi dengan lingkungan secara      otomatis, seperti cara mesin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Psikologi      kognitif yang didoroang oleh Tolman, Bandura dan Peaget yang lebih      menekankan pentingnya informasi, harapan, keyakinan dan skemata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Cybernetik,      yang berpandangan bahwa manusia secara konstan menguji sensory input      melawan beberapa standard dan kemudian jika ada ketidak cocokan diantara      keduanya, maka yang menarik pada kesesuaian tingkah laku hingga ketidak      cocokan dihilangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Robotology,      yang sukses menciptakan suatu jenis mesin dan peralatan yang secara sukses      menirukan aktifitas tertentu kehidupan organisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Teori      informasi, yang menkonsep tindakan sebagai sesuatu cara yang obyektif      pengukuran informasi dan menunjukkan bagaimana infromasi dikodekan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan sistem komunikasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Komputer,      komputer yang bertindak sebagai model kekuatan dengan studi proses kognitif      manusia.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Sekilas tentang Donald A. Norman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam bukunya &lt;i&gt;An Introduction to Theories of Learning&lt;/i&gt;, Olson dan Hergenhahn memilih Donald A. Norman sebagai representasi dari psikologi proses informasi (&lt;i&gt;information processing of psychology)&lt;/i&gt; karena ketertarikan secara khusus pada belajar dan secara konsern serta komprehensif mendalami hal itu dari pada kerja yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Donald A. Norman lahir tahun 1935. Beliau adalah profesor psikologi pada &lt;i&gt;University of California, &lt;/i&gt;San Diego. Beliau juga menjabat sebagai Direktur pada &lt;i&gt;Institute for Cognitive Science&lt;/i&gt; dan pimpinan disiplin program doctoral di &lt;i&gt;Cognitive Science&lt;/i&gt;. Norman menerima gelar kesarjanaannya dari &lt;i&gt;Massachusetts Institute of Technology&lt;/i&gt; dalam bidang &lt;i&gt;Electrical Engineering&lt;/i&gt; pada tahun 1957. Beliau menerima gelar Masternya dari &lt;i&gt;University of Pennsylvania&lt;/i&gt; dalam bidang &lt;i&gt;Electrical Engineering&lt;/i&gt; pada tahun 1959 dan gelar Doktornya diperoleh dari institusi yang sama dalam bidang psikologi matematika di tahun 1962. Dia menjadi dosen dan peneliti di &lt;i&gt;Harvard University&lt;/i&gt; dari tahun 1963 hingga dia bergabung pada sebuah fakultas di &lt;i&gt;University of California,&lt;/i&gt; San Diego, di mana dia berada sejak saat itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Norman telah menulis berbagai artikel dan buku-buku yang berpengaruh, termasuk &lt;i&gt;Human Information Processing: An Introduction to Psychology&lt;/i&gt; (1977) yang beliau tulis bersama temanya Peter H. Lindsay. Norman lebih tertarik pada aplikasi teorinya. Beliau mengaplikasikan fokus kerja pada apa yang disebut dengan &lt;i&gt;cognitive engineering&lt;/i&gt; yang bisa digunakan untuk mengembangkan &lt;i&gt;human machine interactive system&lt;/i&gt; yang akan mengurangai kesalahan insiden manusia. Beliau juga menulis &lt;i&gt;The Psychology of Everyday Things&lt;/i&gt; (1988), menunjukkan bagaimana mendisain peralatan dan mesin yang tepat bisa dengan signifikan mereduksi kecelakaan dan kesalahan. Penelitian Norman meliputi penyusunan topik-topik dari memory, attensi, dan pembelajaran untuk berperan secara sadar dan sub sadar mekanis dalam mengontrol &lt;i&gt;behavior &lt;/i&gt;manusia. Penekananya selalu pada bagaimana semua sistem &lt;i&gt;body and cognitive&lt;/i&gt; mempengaruhi dan tidak mempengaruhi pada &lt;i&gt;isolated system.&lt;/i&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Pemikirannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Donald A. Norman telah cukup banyak menulis berbagai buku dan artikel-artikel yang cukup berpengaruh di antaranya juga sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Bahwa Norman ini walaupun secara biografis tidak linier dalam bidang pembelajaran, akan tetapi pada kenyataanya beliau lebih intens untuk melalukan penelitian-penelitian tentang pembelajaran yang lebih menitik tekankan kepada proses kognitif. Sebagaimana tokoh-tokoh sebelumnya dalam bukunya Olson dan Hergenhahn ini tentang kelompok teori kognitif dan Norman dimasukkan ke dalam kelompok teori ini dengan spesialisasi sebagai tokoh &lt;i&gt;Information Processing Psychology&lt;/i&gt; (psikologi pemrosesan informasi).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Adapun teori atau pemikiran, pendapat Norman tentang belajar yang bisa diungkap dalam buku &lt;i&gt;An Introduction to Theories of Learning&lt;/i&gt; ini adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Hukum pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;      (&lt;i&gt;Law of Learning)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Adalah pemikirannya tentang belajar yang terwujud dalam tiga hukum, semuanya yang menekankan pada &lt;i&gt;causal&lt;/i&gt; hubungan antara tindakan dan hasil. Meliputi:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;a)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hukum hubungan sebab akibat (The law of causal relationship)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Adalah untuk suatu organisme untuk menghubungkan belajar antara suatu tindakan khusus dan suatu hasil, sesuatu yang harus menjadi suatu hubungan sebab akibat yang jelas diantara keduanya. Ini yang disebut hukum hubungan sebab akibat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;b)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hukum belajar sebab akibat (The law of causal learning)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam hukum belajar sebab akibat mempunyai dua bagian: &lt;i&gt;pertama&lt;/i&gt;, untuk hasil yang diinginkan, organisme yang mencoba untuk mengulangi tindakan-tindakan tertentu yang memiliki suatu hubungan sebab akibat yang jelas pada hasil yang diinginkan. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, untuk hasil yang tidak diinginkan, organisme yang mencoba untuk menghindari tindakan-tindakan itu yang mempunyai suatu hubungan sebab akibat yang jelas untuk hasil yang tidak diinginkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;c)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hukum umpan balik informasi (The law of information feedback)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam hukum umpan balik informasi ini, hasil dari suatu penyajian peristiwa sebagai informasi tentang peristiwa tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Cara pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;      (&lt;i&gt;Modes of Learning)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam kajian tentang mode-mode pembelajaran, Rumelhart and Norman (1981) memperlihatkan kedekatan hubungan antara pendekatan proses informasinya (&lt;i&gt;information processing approach&lt;/i&gt;) dan pandangan Piaget tentang pengembangan pengetahuan (&lt;i&gt;developmental knowledge&lt;/i&gt;). Adapun &lt;i&gt;mode of learning&lt;/i&gt;-nya sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Accretion &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;(Pertumbuhan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Merupakan penambahan pengetahuan pada skemata yang ada, tanpa mengubah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;strukturnya dalam cara-cara yang mendasar. Contoh belajar mengendarai mobil yang sebelumnya tidak bisa mengendarainya. Norman (1982) menulis, agaknya kita telah memiliki kerangka pengetahuan tentang struktur automobil dan mekaniknya. Namun, kita masih harus belajar tentang mobil baru dan bagian-bagiannya yang penting. Sebagaimana mobil kita memasukkan aspek-aspek baru ke dalam memory sesuai dengan bentuk maupun caranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Structuring&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt; (Penyusunan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Ketika keberadaan skemata tidak memperkenankan negosiasi dengan lingkungan secara efektif. Norman, menunjukkan kepada belajar skemata sebagai struktur, namun banyak kesulitan jenis belajar ini. Penggunaan contoh di atas, ketika orang pertama kali belajar bagaimana mengendarai sesuatu, maka ia harus belajar suatu skema mengendarai; tugas yang sulit ini dikerjakan, meskipun dapat diterapkan pada hampir semua automobil dengan relatif menyenangkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tuning&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt; (penyelarasan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Merupakan penyesuaian suatu skema pada suatu jenis situasi hubungan yang luas. Tuning mencoba memasukkan hal yang amatir pada bentuk yang ahli dan ini menunjukkan keterlambatan jenis belajar. Dalam proses ini dituntut untuk selalu menyelaraskan dengan yang lebih mampu, yang amatir harus selaras dengan yang ahli. Hal ini tidak mudah dan akan membutuhkan waktu yang banyak untuk menyelaraskannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Learning by analogy&lt;/i&gt; (pembelajaran dengan analogi)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Model ini menurut Norman berisi bahwa belajar skemata baru selalu dihubungkan dengan skemata yang sudah ada. Dalam proses ini beranggapan bahwa skemata yang ada merupakan suatu analogi yang sempurna untuk yang lain, padahal belajar dengan analogi ini hampir selalu kurang sempurna.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV"  style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Memory&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt; (Ingatan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Menuut Ellis dan Hunt (1993) Memory atau ingatan menunjuk pada proses penyimpanan atau pemeliharaan informasi sepanjang waktu (&lt;i&gt;maintaining information overtime&lt;/i&gt;). Seseorang dapat menyimpan kode nomor telepon tertentu dalam ingatannya untuk jangka waktu kurang dari satu detik, atau sepanjang hayatnya. Hampir semua aktifitas manusia selalu melibatkan aspek ingatan. Oleh karena itu ingatan menjadi sesuatu yang sangat penting dalam proses kognitif manusia.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sementara itu, Menurut Norman bahwa terdapat tiga hal yang harus dikelola untuk mengingat dengan sukses, yaitu akuisisi (&lt;i&gt;acquisition&lt;/i&gt;), retensi (&lt;i&gt;retention&lt;/i&gt;) dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengingat kembali (&lt;i&gt;retrieval&lt;/i&gt;).&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Adapun memory menurut Olson dan Hergenhahn terbagi menjadi tiga yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sensory memory&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt; (SM)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Sensory memory atau sensory store adalah bermula ketika reseptor diaktifkan dan berakhir selama satu detik, sebagaimana memory menyimpan banyak sekali informasi, tetapi informasi yang tersedia hanya membutuhkan waktu yang sangat singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Short term memory &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;(STM)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Short term memory disebut juga short term store dan primary memory. Merupakan materi memory yang diseleksi dari sensory memory untuk diproses terlebih dahulu sebagaimana memory berakhir selama 15 detik. Dengan kata lain proses penyimpanan suatu informasi hanya membutuhkan waktu yang cukup singkat dan untuk jangka waktu yang cukup singkat pula.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Long term memory&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt; (LTM)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Long term memory disebut juga long term store dan secondary memory. Adalah jika materi dalam short term memory dilatih kembali cukup lama, hal itu menjadi bagian dri long term memory. Hal itu dalam long term memory dimana skemata disimpan. Sebagaimana memory berakhir dalam jangka waktu yang tak terbatas. Hal ini dapat dipahami bahwa proses penyimpanan untuk tetap bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama bahkan seumur hidup.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="4" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Cognitive engineering&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Merupakan suatu bidang yang mengambil kenyataan dari ilmu pengetahuan kognitif dan diaplikasikan pada teknologi modern. Dari sini menurut Norman setelah melakukan berbagai studi kasus bahwa kesalahan tidak pada kesalahan manusia, akan tetapi pada disain peralatan yang diopeasikan. Sehingga dia mengklaim bahwa kesalahan tidak pada kesalahan operator, tetapi pada sistemnya.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ketertarikan Norman pada Conitive engeenering ini menelorkan bukunya yang berjudul &lt;i&gt;The Psychology of Everyday Things&lt;/i&gt; (1988).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;D.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Kritik terhadap Norman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Donald A. Norman sebagaimana Olson dan Hergenhanhn memasukkan dalam kelompok teori kognitif dan sebagai representasi dari Psikologi dengan pendekatan proses informasi. Sebelumnya kajian-kajian kognitif dipandang sebagai sesuatu yang misterius dan tidak mungkin akan dapat dikaji secara ilmiah. Namun dengan keberadaan teori proses informasi ini memberikan kepercayaan bahwa tidak benar kognitif sebagai sesuatu yang misterius.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Pendekatan proses informasi, khususnya yang ditampilkan oleh Norman mendorong sintesa sejumlah sifat manusia. Sebagai contoh, Norman menekankan faktanya bahwa hasil tingkah laku manusia dari interaksi kondisi arus stimulus, memory pengalaman masa lalu, emosi, kepercayaan, sikap, pengaruh sosial dan budaya, dan kehadiran manusia laki-laki. Menurut Norman, untuk memahami kebenaran mengapa manusia bertindak sebagaimana yang dia lakukan, kita harus memahami bagaimana variabel ini dan yang lain berinteraksi dengan yang lain. Pendekatan ini tidak mendorong studi tingkah laku manusia yang terisolasikan seperti inteligensi, memory, formasi konsep, atau problem solving. Inilah kompleksitas dan kesempurnaan manusia diakui.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Pendekatan proses informasi cocok dengan teknologi komputer setidaknya dalam rentetan aplikasi yang lebih sederhana. Sebagaimana yang telah diketahui, banyak tokoh psikologi proses informasi, tidak seperti ahli psikologi yang lain, dalam suatu posisi memanfaatkan komputer untuk menguji asumsi-asumsinya tentang bagaimana manusia memproses informasi. Komputer sekaligus suatu alat kekuatan penelitian dan suatu model yang membangkitkan fungsi kognitif manusia dan banyak ahli psikologi proses informasi menggunakan komputer sebagai caranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Karena para ahli psikologi proses informasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sering menggunakan komputer untuk proses simulasi yang dipelajarinya, maka pendekatan ini disebabkan para ahli psikologi menjadi lebih tepat dengan konsep dan teorinya. Sebagaimana telah kita catat, sebelum suatu teori dapat dimasukkan dalam program komputer. Hal itu harus dinyatakan dengan jelas dan tepat, dan hal itu harus dikonsistenkan dengan logic. Jika suatu program tidak jelas menjadi membosankan komputer. Komputer tidak akan bekerja atau memproduksi hasil yang tidak berarti. Itulah pendekatan proses informasi pada psikologi yang menyediakan pelayanan yang sama sebagaimana belajar model matematika. Yaitu, menyebabkan peneliti mengklarifikasi definisi istilah-istilahnya dan ketepatan dalam memformulasikan teori-teorinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Teori yang dikemukakan oleh Norman ini tentang psikologi proses informasi ini, apabila dikaji dari sudut pandang Islam sebenarnya sudah ada dan sudah jelas dalam kitab sucinya Al Qur'an. Karena yang disentuh oleh Norman tidak jauh dari permasalahan memory (ingatan), di mana hal ini tidak bisa dilepaskan dari proses mengingat dan berpikir. Berkaitan dengan hal itu, maka di dalam Al Qur'an telah banyak menyinggung tentang mengingat atau berpikir ini dengan kata-kata &lt;i&gt;afalaa tatafakarun, afala ta’qilun, afala yatadzakarun &lt;/i&gt;dan lain sebagainya. Secara tidak langsung bahwa apa yang dilontarkan Norman dengan proses informasinya ini bukan suatu barang baru lagi&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="ES" &gt;Sebagai contoh Al Qur'an telah dengan jelas menyatakan tentang proses informasi ini:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-right: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB1;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB5;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB4;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;R&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB4;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB1;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB5;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB1;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;ù&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB4;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;ç&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;m&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;»&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB5;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;R&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB4;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;÷&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB1;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB5;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB1;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;£&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB5;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB5;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB4;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;R&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB1;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB5;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;|&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB1;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;¡&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB4;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;=&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB4;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB1;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB4;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;ö&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;N&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB4;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;ß&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;g&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB4;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;=&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB5;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB1;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;è&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB5;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB5;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;b&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB4;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;ã&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB1;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB5;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB5;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;x&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB1;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB5;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB1;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;F&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB5;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;Ç&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;Ñ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:HQPB2;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;&lt;span style=""&gt;È&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Sesungguhnya kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="ES" &gt; (Q.S. Ad Dhukhan (44): 58)&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="ES" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;E.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kesimpulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Adanya psikologi proses informasi tidak bisa dilepaskan dari pada teori-teori belajar sebelumnya, baik itu asosianistik, kognitif maupun yang lain. Namun pada kenyataannya dalam teori psikologi prosesn informasi ini secara jelas menyatakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan jelas tentang aspek kognitif dari pada aspek behavioristiknya. Terbukti dalam bukunya Olson dan Hergenhahn ini menunjukkan proses informasi itu sendiri yang terdiri dari input, proses dan output. Dan proses ini lebih menunjukkan pengolahan pada proses yang terjadi dalam memory. Sehingga kemudian kekuatan memory ini dibagi menjadi dua yaitu memory jangka pendek dan memory jangka panjang. Ini kemudian muncul bahwa dalam suatu memory ada yang hanya mampu menampung informasi dalam jangka waktu tertentu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;Di samping itu, teori yang dikemukakan oleh Norman ini bukan suatu barang baru, akan tetapi telah muncul pada masa sebelum Norman mengemukakan pemikiran-pemikirannya, walaupun hal itu dalam terminologi yang berbeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;F.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bibliografi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Olson and Hergenhahn,&lt;i&gt; An Introduction to Theories of Learning&lt;/i&gt;. America: Prentice Hall, Inc, 199&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;7.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;M. Dimyati Mahmud, &lt;i&gt;Psikologi Pendidikan: suatu pendekatan terapan&lt;/i&gt;. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 1990.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Suharnan, &lt;i&gt;Psikologi Kognitif&lt;/i&gt; . Surabaya: Srikandi, 2005.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karen Markowitz dan Eric Jensen,&lt;i&gt; Otak Sejuta Gigabyte: Buku Pintar Membangun Ingatan Super&lt;/i&gt;. Terj. Lala Herawati Dharma dan Esti A. Budihabsari. Bandung: Kaifa, 2003.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;M. Usman Najati, &lt;i&gt;Psikologi Dalam Al Qur'an: Terapi Al Qur'an Dalam Penyembuah Gangguan Kejiwaan.&lt;/i&gt; Bandung: Pustaka Setia, 2005.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;hr style="height: 3px;font-size:78%;" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Olson and Hergenhahn,&lt;i&gt; An Introduction to Theories of Learning&lt;/i&gt; (America: Prentice Hall, Inc, 1997), 366.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; M. Dimyati Mahmud, &lt;i&gt;Psikologi Pendidikan: suatu pendekatan terapan&lt;/i&gt; (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 1990), 129.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Olson and Hergenhahn,&lt;i&gt; An Introduction……….&lt;/i&gt;359-366.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Olson and Hergenhahn,&lt;i&gt; An Introduction to Theories of Learning&lt;/i&gt;…. 366.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt; Suharnan, &lt;i&gt;Psikologi Kognitif&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Surabaya: Srikandi, 2005),67.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Olson dan Hergenhahn, &lt;i&gt;An Introduction to….&lt;/i&gt;377.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt; Karen Markowitz dan Eric Jensen,&lt;i&gt; Otak Sejuta Gigabyte: Buku Pintar Membangun Ingatan Super&lt;/i&gt;. Terj. Lala Herawati Dharma dan Esti A. Budihabsari (Bandung: Kaifa, 2003), 22.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, 22-23.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Olson and Hergenhahn, &lt;i&gt;An Introduction……….&lt;/i&gt;385.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1525122219711433196#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; M. Usman Najati, &lt;i&gt;Psikologi Dalam Al Qur'an: Terapi Al Qur'an Dalam Penyembuah Gangguan Kejiwaan&lt;/i&gt; (Bandung: Pustaka Setia, 2005), 337.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1525122219711433196-1841596012485489895?l=kangjumari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangjumari.blogspot.com/feeds/1841596012485489895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1525122219711433196&amp;postID=1841596012485489895&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/1841596012485489895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/1841596012485489895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangjumari.blogspot.com/2007/12/teori-belajar-donald-norman.html' title='TEORI BELAJAR DONALD A. NORMAN'/><author><name>kang jumari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03274637909033545700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_h2jQcs50AGU/R3Z7VoAS6EI/AAAAAAAAAAo/mhkKeJSK4ns/S220/Untitled-1+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1525122219711433196.post-9207445223318250966</id><published>2007-12-23T12:14:00.000-08:00</published><updated>2007-12-23T12:21:27.371-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;div align="center"&gt; e-Learning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Elektronik atau belajar dengan bantuan komputer sudah ada sejak 1970.&lt;br /&gt;Dengan menggunakan monitor layar hijau melalui sebuah komputer mainframe&lt;br /&gt;berkecepatan rendah, tetapi apakah metode tersebut dapat dikatakan sebagai e-Learning.&lt;br /&gt;Tentu saja hal tersebut bukan merupakan jawaban yang tepat mengenai e-Learning.&lt;br /&gt;Tanpa definisi yang jelas mengenai e-Learning, sangatlah sulit&lt;br /&gt;memutuskan benar atau tidak untuk disebut sebagai e-Learning.&lt;br /&gt;2.1.1 Definisi e-Learning&lt;br /&gt;Berbagai pendapat dikemukan untuk dapat mendefinisikan e-Learning secara&lt;br /&gt;tepat. e-Learning sendiri adalah salah satu bentuk dari konsep Distance Learning.&lt;br /&gt;Bentuk e-Learning sendiri cukup luas, sebuah portal yang berisi informasi ilmu&lt;br /&gt;pengetahuan sudah dapat dikatakan sebagai situs e-Learning.&lt;br /&gt;e-Learning atau Internet enabled learning menggabungkan metode&lt;br /&gt;pengajaran dan teknologi sebagai sarana dalam belajar. (Dr. Jo Hamilton-Jones)&lt;br /&gt;e-Learning adalah proses belajar secara efektif yang dihasilkan dengan cara&lt;br /&gt;menggabungkan penyampaian materi secara digital yang terdiri dari dukungan dan&lt;br /&gt;layanan dalam belajar. (Vaughan Waller, 2001)&lt;br /&gt;· Field&lt;br /&gt;Aturan penamaan field:&lt;br /&gt;1. Nama field harus unik.&lt;br /&gt;2. Terdiri maksimal 32 karakter.&lt;br /&gt;3. Tidak dapat dimulai dengan nomor.&lt;br /&gt;4. Tidak mengandung spasi.&lt;br /&gt;5. Tidak dapat dimulai dengan tanda dollar ($) atau menggunakan simbol @.&lt;br /&gt;6. Nama field sebaiknya singkat dan bersifat deskriptif.&lt;br /&gt;Tipe-tipe data pada field :&lt;br /&gt;a. Text&lt;br /&gt;Terdiri dari huruf, tanda baca, spasi, dan nomor yang tidak digunakan untuk&lt;br /&gt;prosedural matematis.&lt;br /&gt;b. Rich Text&lt;br /&gt;Mengijinkan user untuk menyisipkan gambar atau grafik, hotspot, embedded&lt;br /&gt;object dan menggunakan text style seperti bold, italics, underline, jenis huruf, dan&lt;br /&gt;warna. Tidak dapat ditampilkan pada sebuah view dan nilainya hanya dapat&lt;br /&gt;dijalankan pada formula&lt;br /&gt;c. Keyword&lt;br /&gt;Untuk membuat sebuah daftar pilihan-pilihan text yang telah didefinisikan&lt;br /&gt;terlebih dahulu, yang membuat data entri lebih mudah dan membuat nilai- nilai&lt;br /&gt;tersebut konsisten pada dokumen.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1525122219711433196-9207445223318250966?l=kangjumari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangjumari.blogspot.com/feeds/9207445223318250966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1525122219711433196&amp;postID=9207445223318250966&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/9207445223318250966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/9207445223318250966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangjumari.blogspot.com/2007/12/e-learning-elektronik-atau-belajar.html' title=''/><author><name>kang jumari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03274637909033545700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_h2jQcs50AGU/R3Z7VoAS6EI/AAAAAAAAAAo/mhkKeJSK4ns/S220/Untitled-1+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1525122219711433196.post-6135071830285137306</id><published>2007-12-23T11:54:00.000-08:00</published><updated>2007-12-23T11:56:25.585-08:00</updated><title type='text'>e-learning teach</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Revolusi teknologi masa kini ? khususnya komputer dan internet telah mengubah cara pandang dan berpikir secara praktis dan efisien pada masyarakat kita khususnya dan dunia pada umumnya. Kita semua dihadapkan pada ambang gerbang transisi yang berbasis teknologi, dimana kecepatan penyampaian dan menangkap suatu informasi menjadi sangat penting dalam rangka memajukan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendayagunakan teknologi komunikasi dan informasi di sekolah adalah salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Berbagai penelitian baik di dalam maupun di luar negeri menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan ajar yang dikemas dalam bentuk media berbasi ICT dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Bersamaan dengan itu, pada generasi e–learning ini, kesadaran masyarakat akan proses belajar mengajar dengan menggunakan media ICT akan semakin besar. Berangkat dari keadaan tersebut, saat ini juga merupakan waktu yang tepat untuk merangsang masyarakat agar mulai menggunakan teknologi dalam upaya pengembangan sumber daya manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1525122219711433196-6135071830285137306?l=kangjumari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangjumari.blogspot.com/feeds/6135071830285137306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1525122219711433196&amp;postID=6135071830285137306&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/6135071830285137306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/6135071830285137306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangjumari.blogspot.com/2007/12/e-learning-teach.html' title='e-learning teach'/><author><name>kang jumari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03274637909033545700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_h2jQcs50AGU/R3Z7VoAS6EI/AAAAAAAAAAo/mhkKeJSK4ns/S220/Untitled-1+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1525122219711433196.post-8093329957245566714</id><published>2007-12-23T11:41:00.000-08:00</published><updated>2007-12-23T11:47:16.318-08:00</updated><title type='text'>INTRODUCTION OF E-LEARNING</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;E-LEARNING: SEBUAH PENGENALAN&lt;br /&gt;kang_jumari@yahoo.com, aj_umar@telkom.net&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jaya Kumar C. Koran (2002), mendefinisikan e-learning sebagai sembarang&lt;br /&gt;pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN,&lt;br /&gt;atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Ada&lt;br /&gt;pula yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang&lt;br /&gt;dilakukan melalui media internet. Sedangkan Dong (dalam Kamarga, 2002)&lt;br /&gt;mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat&lt;br /&gt;elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan&lt;br /&gt;kebutuhannya.&lt;br /&gt;Rosenberg (2001) menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan&lt;br /&gt;teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan&lt;br /&gt;pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Cambell (2002), Kamarga&lt;br /&gt;(2002) yang intinya menekankan penggunaan internet dalam pendidikan sebagai&lt;br /&gt;hakekat e-learning. Bahkan Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e”&lt;br /&gt;atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk&lt;br /&gt;segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat&lt;br /&gt;teknologi elektronik internet. Atau e-learning didefinisikan sebagai berikut : e-Learning&lt;br /&gt;is a generic term for all technologically supported learning using an array&lt;br /&gt;of teaching and learning tools as phone bridging, audio and videotapes,&lt;br /&gt;teleconferencing, satellite transmissions, and the more recognized web-based&lt;br /&gt;training or computer aided instruction also commonly referred to as online courses&lt;br /&gt;(Soekartawi, Haryono dan Librero, 2002).&lt;br /&gt;Internet, Intranet, satelit, tape audio/video, TV interaktif dan CD-ROM adalah&lt;br /&gt;sebahagian dari media elektronik yang digunakan Pengajaran boleh disampaikan&lt;br /&gt;secara ‘synchronously’ (pada waktu yang sama) ataupun ‘asynchronously’ (pada&lt;br /&gt;waktu yang berbeda). Materi pengajaran dan pembelajaran yang disampaikan melalui&lt;br /&gt;media ini mempunyai teks, grafik, animasi, simulasi, audio dan video. Ia juga harus&lt;br /&gt;menyediakan kemudahan untuk ‘discussion group’ dengan bantuan profesional dalam&lt;br /&gt;bidangnya.&lt;br /&gt;Perbedaan Pembelajaran Tradisional dengan e-learning yaitu kelas&lt;br /&gt;‘tradisional’, guru dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk&lt;br /&gt;menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajarnya. Sedangkan di dalam pembelajaran&lt;br /&gt;‘e-learning’ fokus utamanya adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu tertentu dan&lt;br /&gt;bertanggung-jawab untuk pembelajarannya. Suasana pembelajaran ‘e-learning’ akan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1525122219711433196-8093329957245566714?l=kangjumari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangjumari.blogspot.com/feeds/8093329957245566714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1525122219711433196&amp;postID=8093329957245566714&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/8093329957245566714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1525122219711433196/posts/default/8093329957245566714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangjumari.blogspot.com/2007/12/introduction-of-e-learning.html' title='INTRODUCTION OF E-LEARNING'/><author><name>kang jumari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03274637909033545700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_h2jQcs50AGU/R3Z7VoAS6EI/AAAAAAAAAAo/mhkKeJSK4ns/S220/Untitled-1+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
