Kang Jumari

Kang Jumari

Belajar Bersama Kang Jumari

He..he...yuk kita belajar bersama tentang segalanya di jagad seisinya. Met!....bergabung ya....

Rabu, 26 Desember 2007

SUMBANGAN PSIKOLOGI DALAM PENDIDIKAN

Pendahuluan

Pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, tidak akan mungkin dapat dilepaskan dari psikologi. Karena dalam pendidikan berhubungan erat dengan manusia. Jika kita membicarakan tentang manusia, maka akan banyak ilmu pengetahuan yang muncul berkaitan dengan eksistensi manusia. Kita mengambil contoh sosiologi yang mempelajari kehidupan manusia dalam berbagai satuan kelompok kecil seperti urutan dalam satuan keluarga, unit-unit pekerjaan, organisasi, kelompok profesi, kelompok-kelompok kemasyarakatan dan lain-lain. Antropologi mempelajari kehidupan manusia dalam kelompok-kelompok yang lebih besar dan terikat oleh suatu ikatan yang lebih bersifat permanen, turun-temurun seperti ras, suku bangsa, kebudayaan dan lain-laian. Sejarah mempelajari kehidupan manusia dalam urutan waktu dan peristiwa yang dialaminya. Fisiologi yang lebih menekankan pada aspek fisik atau jasmani manusia, seperti struktur tubuh, bagian-bagian dari tubuh serta fungsi dan cara kerja dari masing-masing aspek tersebut. Terlepas dari semua keinginan manusia yang selalu ingin tahu dunia luar diluar dirinya. Manusia juga memiliki kecenderungan untuk mempelajari dirinya sendiri, sehingga muncul suatu ilmu yang mempelajari diri sendiri manusia, atau dengan kata lain manusia ingin mengetahui keadaan manusia sendiri, manusia menjadi objek studi dari manusia. Hal ini yang memunculkan ilmu pengetahuan baru yang disebut psikologi, yang lebih menekankan kepada aspek pemahaman dan pengkajian sesuatu dari sudut karekateristik dan perilaku manusia, khususnya manusia sebagai individu.[1]

Individu yang dimaksud adalah individu manusia, namun bukan manusia pada umumnya, melainkan manusia yang memiliki keunikan dan karakteristik tertentu yang bersifat spesifik. Hal ini yang membedakan psikologi dengan cabang-cabang ilmu lain yang sama-sama mengkaji tentang manusia. Adapun pendidikan, merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang lebih menekankan kepada mendidik, membimbing dan mengarahkan manusia menuju arah yang lebih baik, secara jasmani maupun rohani. Sehingga antara pendidikan dan psikologi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Karena keduanya saling mendukung dan saling melengkapi. Untuk mewujudkan manusia yang bertingkah laku atau berperilaku lebih baik, maka manusia itu harus dididik dalam suatu proses pendidikan. Pendidikan sendiri tidak akan berjalan secara optimal, efektif dan efisien apabila mengesampingkan faktor psikologis manusia. Dalam proses pendidikan manusia memiliki karakteristik dan keunikan yang berbeda satu sama lain. Hal ini membutuhkan pengelolaan yang berbeda. Bagitu pun apabila ditinjau dari sudut perkembangan, pertumbuhan, jenis kelamin manusia tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan yang dilakukan tidak akan sama. Oleh karena itu, penting bagi pendidik maupun calon pendidik untuk menguasai ilmu pengetahuan psikologi, agar dalam proses pendidikannya mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi pada peserta didiknya.

Adapun dalam kajian ini berupaya untuk mengeksplorasi sumbangan atau kontribusi psikologi dalam pendidikan. Apa sumbangan atau kontribusi yang diberikan psikologi dalam pendidikan? Apakah tujuan pendidikan akan tercapai apabila mengesampingkan aspek psikologis ini? Prolematika tersebut muncul karena dalam pendidikan tidak bisa dilepaskan dari dukungan cabang ilmu psikologi ini.

Arti Psikologi dan Psikologi Pendidikan

Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung.

Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.[2]

Interaksi individu dengan lingkungannya yang cukup kompleks akan memunculkan baragam jenis pengalaman yang berbeda-beda, yang pada gilirannya akan mengubah intensitas nilai terhadap dirinya dan terhadap orang lain. Kenyataan ini semakin terasa dalam struktur masyarakat dewasa ini. Misalnya, interaksi orang tua dan anak di lingkungan keluarga, guru dan murid di sekolah, manajer dan karyawan di perusahaan, dokter dan pasien di rumah sakit dan lain sebagainya. Kenyataan ini, sudah tentu akan melahirkan problematika baru dalam psikologi dan menghendaki pengkajian secara khusus. Sehingga dari sini akan muncul beragam istilah psikologi, yaitu psikologi anak, psikologi pendidikan, psikologi keluarga, psikologi perusahaan dan lain sebagainya.[3] Namun demikian, kajian kita saat ini lebih terfokus kepada psikologi pendidikan. Jika mengetahui makna psikologi sebagaimana tersebut di atas, maka psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungan pendidikan atau boleh dikatakan sebagai proses interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam suatu situasi pendidikan.[4]

Pemaknaan psikologi pendidikan tersebut, pada kenyataanya mengalami perkembangan yang lebih mengerucut kepada psikologi yang berhubungan dengan proses belajar, sebagaimana diungkap oleh beberapa ahli. Crow and Crow, berpendapat bahwa:

Educational psychologi describes and explains the learning experiences of an individual from birth through old age. Its subject matter and concerned with the conditions that affect learning.[5]

"Psikologi pendidikan menjelaskan permasalahan-permasalahan yang dialami individu dari sejak lahir sampai berusia lanjut, terutama yang menyangkut kondisi-kondisi yang mempengaruhi belajar"

Sementara itu, Witherington, berpendapat bahwa:

A systematic study of the process and factors involved in the education of human being is called educational psychology[6]

"Psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang terdapat dalam pendidikan manusia"

Adapun dari kedua pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa psikologi pendidikan merupakan studi yang secara sistematis berkaitan dengan proses pendidikan yang dialami oleh individu manusia, khususnya belajar mulai dari sejak lahir sampai berusia lanjut. Hal ini senada diungkapkan oleh sebuah hadits Nabi yang berarti "carilah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat". Walaupun seandainya ditinjau keberadaan hadits tersebut kurang pas apabila dikaitkan dengan psikologi, karena bersifat anjuran. Namun demikian, isi proses dalam anjuran tersebut tersimpan banyak hal terkait dengan psikologi pendidikan sebagaimana diungkap para tokoh tersebut.

Ruang Lingkup Psikologi dalam Pendidikan

Pada pembahasan sebagaimana tersebut di atas, bahwa mengkaji manusia dalam sudut padang psikologi cukup beragam, yang akan memuncul ilmu psikologi baru seperti psikologi keluarga, psikologi pendidikan, psikologi sosial, psikologi pria dan wanita serta lain sebagainya. Psikologi pendidikan sebagai sebuah disiplin ilmu psikologi yang khusus mempelajari, meneliti dan membahas seluruh tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses pendidikan itu, meliputi tingkah laku belajar (oleh peserta didik), tingkah laku mengajar (oleh pendidik) dan tingkah laku belajar-mengajar (oleh pendidik dan peserta didik yang saling berinteraksi).

Inti permasalahan psikologis dalam psikologi pendidikan tanpa mengabaikan persoalan psikologi pendidik, terletak pada peserta didik. Pendidikan pada hakikatnya adalah pelayanan yang khusus diperuntukkan bagi peserta didik. Karena itu, ruang lingkup pokok bahasan psikologi pendidikan, selain teori-teori psikologi pendidikan sebagai suatu ilmu, juga berbagai aspek psikologis para peserta didik khususnya ketika mereka terlibat dalam proses belajar dan proses belajar mengajar. Oleh karena itu secara garis besar, banyak membatasi pokok bahasan psikologi pendidikan menjadi tiga macam:

  1. Mengenai belajar, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar peserta didik dan sebagainya.
  2. Mengenai proses belajar, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar peserta didik dan sebagainya.
  3. Mengenai situasi belajar, yakni suasana dan keadaan lingkungan baik bersifat fisik maupun non fisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta didik.[7]

Sementara itu, Samuel Smith sebagaimana dikutip oleh Suryabarata, menetapkan 16 topik yang dibahas dalam psikologi pendidikan, yaitu:

  1. Pengetahuan tentang psikologi pendidikan (the science of educational psychology).
  2. Hereditas atau karakteristik pembawaan sejak lahir (heredity).
  3. Lingkungan yang bersifat fisik (physical structure).
  4. Perkembangan siswa (growth).
  5. Proses-proses tingkah laku (behavior process).
  6. Hakikat dan ruang lingkup belajar (nature and scope of learning).
  7. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar (factors that condition learning).
  8. Hukum-hukum dan teori-teori belajar (laws and theories of learning).
  9. Pengukuran, yakni prinsip-prinsip dasar dan batasan-batasan pengukuran/evaluasi (measurement: basic principles and definitions).
  10. Transfer belajar, meliputi mata pelajaran (transfer of learning subject matters).
  11. Sudut-sudut pandang praktis mengenai pengukuran (practical aspects of measurement).
  12. Ilmu statistik dasar (element of statistics).
  13. Kesehatan rohani (mental hygiene).
  14. Pendidikan membentuk watak (character education).
  15. Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah menengah (psychology of secondary school subjects).
  16. Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah dasar (pscychology of elementary school subjects).[8]

Namun dari keenam belas bahasan tersebut di atas, konon telah dikupas oleh hampir semua ahli yang diselidiki Smith, walaupun porsi (jumlah bagian) yang diberikan dalam pengupasan tersebut tidak sama.[9]

Dari ruang lingkup psikologi pendidikan tersebut menunjukkan bahwa sangat jelas masalah belajar merupakan titik sentral dan vital dalam suatu proses pendidikan. Sehingga berhasil tidaknya suatu tujuan pendidikan, tergantung kepada proses belajar mengajar yang terjadi baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Sumbangan Psikologi dalam Pendidikan

Dahulu, sebelum psikologi memasuki lembaga yang menghasilkan tenaga berpendidikan talah berkembang beberapa anggapan bahwa pengetahuan dan penguasaan akan bahan pelajaran secara otomatis akan memberikan kemampuan atau kompetensi untuk mengajarkanya. Anggapan lainnya, jika kemampuan dan ketrampilan mengajar terpisah dari pengetahuan tentang bahan pelajaran yang ada, maka kemampuan dan ketrampilan tersebut merupakan pembawaannya. Dengan kata lain, anggapan yang terakhir, melahirkan pernyataan "guru-guru/ pendidik dilahirkan sebagai guru/pendidik, bukannya dipersiapkan"(teachers are born, not made).

Sudah tentu, kedua anggapan tersebut tidak menunjukkan keahliannya, baik seluruhnya maupun sebagian. Terhadap anggapan pertama, keahlian atau validitasnya dapat digugurkan berdasarkan atas pengalaman sehari-hari. Suatu gejala yang sudah lazim terdapat pada pengalaman tiap orang menunjukkan bahwa sarjana baik laki-laki maupun wanita, betapapun kompetennya, namun belumlah tentu dapat menjamin dia mampu menyampaikan pengetahuannya kepada para peserta didik dengan baik. Sebaliknya, cukup banyak sarjana yang kurang kompeten, ternyata lebih berhasil sebagai pendidik/guru.

Sedangkan terhadap anggapan yang kedua, tidak sepenuhnya mengandung kesahihan. Memang, tak seorang pun menyangkal bahwa tiap-tiap orang ada ketidaksamaan dalam hal bakat pembawaan mengajar. Paling tidak ada dua hal – yaitu dalam hal kemampuan untuk menemukannya secara intuitif atau belajar dari orang lain tentang prinsip-prinsip belajar-mengajar yang sahih dan dalam hal kemampuannya untuk melaksanakan prinsip-prinsip tersebut dengan berhasil. Perkiraan yang tepat adalah sebagian mereka yang berintelegensi normal akan dapat memanfaatkan dan mengambil keuntungan sebagian pengajaran yang sistematis yang dibenarkan secara logis dan empiris tentang sifat dan keudahan dalam proses belajar. Bagi mereka yang kurang berbakat, setidak-tidaknya akan dapat menjadi guru yang baik, sedangkan bagi mereka yang berbakat lebih baik, justru akan dapat mengembangkan dengan lebih baik lagi tiap kapasitas yang dimilikinya. Bagaimanapun, yang ideal ialah dilakukannya proses seleksi yang sedemikian rupa dalam penerimaan calon pendidik/guru agar psikologi pendidikan benar-benar dapat memainkan peran dan fungsinya dengan jelas.

Untuk memperkuat uraian tersebut, baiklah dikemukakan contoh sebagai berikut, jika orang hendak mengajarkan bidang studi matematika atau bidang studi pendidikan agama, misalnya. Paling tidak ia perlu memahami dan menguasai empat hal, yaitu: pertama, tujuan yang ingin dicapai; kedua, materi yang akan disampaikan; ketiga, sifat dan hakikat anak didik; dan keempat, metode mengajar dan alat-alat peraganya.

Terhadap masalah yang kedua, yaitu yang menyangkut masalah atau materi yang akan disajikan, biasanya telah dipelajari calon pendidik/guru sebelum ia disiapkan secara teknis untuk menjadi guru/pendidik. Terhadap masalah pertama dan keempat, yaitu tujuan yang ingin dicapai dan metode mengajar dan alat-alat peraga yang diperlukan, kesemuannya dapat dimasukkan ke dalam seni dan ketrampilan mengajar serta prosedur pengembangan dalam proses belajar mengajar. Sedangkan terhadap masalah yang ketiga, yaitu sifat hakikat peserta didik, ini menyangkut pengetahuan dan pemahaman kejiwaan anak didik, ini menyangkut pengetahuan dan pemahaman kejiwaan anak didik dalam proses belajarnya. Dan terhadap masalah yang terakhir inilah nampak dengan jelas betapa pentingnya psikologi pendidikan bagi guru/pendidik, maupun calon pendidik.

Jadi, berdasarkan atas uraian di atas, dapatlah ditegaskan bahwa psikologi pendidikan sebagai suatu ilmu pengetahuan merupakan suatu keharusan di lembaga-lembaga pendidikan guru/pendidik. Dan penegasan ini pun mendasarkan atas dua dimensi pemikiran. Pertama, sifat dan jenis belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya yang kemudian dapat diidentifikasikan secara meyakinkan. Kedua, pengetahuan yang serupa itu dapat disistematisasikan dan disampaikan secara efektif kepada para calon pendidik/guru. Dari kedua dimensi pemikiran inilah para calon pendidik/guru dapat mengambil manfaat dan keuntungannya.

Walaupun demikian, perlu disadari bahwa psikologi pendidikan bukan merupakan satu-satunya syarat untuk mempersiapkan dan menjadikan seseorang bisa menjadi pendidik/guru yang baik. Sebab, masih cukup banyak persyaratan lainnya, antara lain, bakat, minat, komitmen, motivasi dan latihan serta penguasaan metodologi pengajaran.[10]

Penutup

Pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, sekaligus juga proses interaksi antara peserta didik dan pendidik dalam suatu lingkungan tertentu. Senantiasa tidak bisa dipisahkan dari psikologi. Karena memang obyek dari pendidikan itu sendiri adalah individu manusia yang memiliki perilaku, karakteristik dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Di sinilah peran penting psikologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, wajib bagi suatu lembaga yang mencetak kader-kader pendidik/guru untuk memberikan ilmu pengetahuan psikologi kepada mereka calon pendidi tersebut. Adapun untuk para pendidik/guru sudah selayaknya menguasai ilmu psikologi ini, agar dalam proses belajar mengajar bisa meminimalisir kegagalan dalam penyampaian materi pelajarannya. Walaupun demikian, perlu disadari bahwa psikologi pendidikan bukan merupakan satu-satunya syarat untuk mempersiapkan dan menjadikan seseorang bisa menjadi pendidik/guru yang baik. Sebab, masih cukup banyak persyaratan lainnya, antara lain, bakat, minat, komitmen, motivasi dan latihan serta penguasaan metodologi pengajaran.

Daftar Pustaka

akhmadsudrajat.files.wordpress.com/ 2007/05/konsep-psikologi-pendidikan.doc

Dalyono, M., Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1997

Lester D. Crow & Alice Crow, Educational Psychology, New York: American Book Company, 1958

Rachman Abror , Abd., Psikologi Pendidikan, Yogya: Tiara Wacana, 1993

Soeryabrata, Soemadi, Psikologi Pendidikan: Suatu Penyajian Secara Operasional, Yogyakarta: Rake Press, 1980

Sukmadinata, Nana Syaodih, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005

Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995

Witherington, H.C., Educational Psychology: Pengantar Psikologi Pendidikan terj. M. Buchori Bandung: Jemmars, 1978



[1] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), 15-16.

[2] akhmadsudrajat.files.wordpress.com/ 2007/05/konsep-psikologi-pendidikan.doc

[3] Abd. Rachaman Abror, Psikologi Pendidikan (Yogya: Tiara Wacana, 1993), 2.

[4] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi…………28.

[5] Lester D. Crow & Alice Crow, Educational Psychology (New York: American Book Company, 1958), 7.

[6] Witherington, H.C., Educational Psychology: Pengantar Psikologi Pendidikan terj. M. Buchori (Bandung: Jemmars, 1978), 35.

[7] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 12-13.

[8] Soemadi soryabrata, Psikologi Pendidikan: Suatu Penyajian Secara Operasional (Yogyakarta: Rake Press, 1980), 2-4.

[9] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), 25.

[10] Abd. Rahman Abror, Psikologi Pendidikan…………18-19.

Tidak ada komentar: